Dalam peraturan ini telah dipertajam beberapa poin penting untuk menjadikan stok CBP yang semakin baik, mulai dari penyerapan sampai penyaluran

Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempertajam regulasi pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) guna memastikan kualitas beras yang diserap tetap terjaga sekaligus memperkuat ketersediaan stok nasional dalam mendukung stabilitas pangan.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan upaya itu dilakukan melalui Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbapanas) Nomor 2 Tahun 2026, yang mana penguatan CBP mengutamakan pasokan dari produksi beras dalam negeri.

"Dalam peraturan ini telah dipertajam beberapa poin penting untuk menjadikan stok CBP yang semakin baik, mulai dari penyerapan sampai penyaluran," kata Amran dalam Rapat Koordinasi Ketersediaan Pangan sebagaimana keterangan di Jakarta, Kamis.

Perbapanas 2/2026 telah mempertegas pengadaan CBP melalui pembelian gabah atau beras berupa gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), beras medium, dan beras premium. Untuk kualifikasi GKP lebih ditekankan merupakan gabah yang telah memasuki usia panen di tingkat petani.

Sementara GKG merupakan GKP yang telah diolah di tingkat petani atau penggilingan. GKP dapat diolah menjadi GKG, beras medium, dan beras premium. Pengadaan diutamakan melakukan pembelian produksi dalam negeri.

Bapanas juga meminta Perum Bulog agar menggunakan instrumen Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram dalam melakukan penyerapan gabah petani.

Apabila rata-rata harga tingkat produsen di daerah setempat berada di bawah HPP, maka Bulog tetap diwajibkan membeli dengan tetap mengacu pada HPP. Sementara, jika rata-rata harga produsen berada di atas HPP, dapat diberikan fleksibilitas HPP untuk Bulog dalam jangka waktu tertentu.

Pemerintah bersama Perum Bulog terus konsisten menjalankan penguatan stok CBP dengan menyerap hasil panen petani dalam negeri. Realisasi serapan setara beras produksi dalam negeri selama kuartal pertama 2026 telah melampaui capaian tahun sebelumnya.

Amran memprediksi sampai minggu ketiga Maret 2026, stok CBP dapat mencapai total 4 juta ton. Kemudian bulan depan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 5 juta ton. Hal Ini merupakan akumulasi dari realisasi serapan setara beras yang gencar dilaksanakan Bulog.

"Stok (CBP) kita hari ini 3,9 juta ton. Minggu ini Insya Allah 4 juta ton dan 1 bulan ke depan 5 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama sejarah Republik Indonesia. Insya Allah bulan 4, 5, 6 (April, Mei, Juni), itu bisa 6 juta ton. (Di April) 5,2 juta ton (itu) estimasi bulan depan," tutur Amran.

Eskalasi stok CBP di awal tahun 2026 itu menunjukkan progresivitas antara produksi bulanan beras nasional dengan penyerapan setara beras yang dilakukan Bulog.

Dalam catatan Bapanas, angka realisasi pengadaan beras dalam negeri per 11 Maret telah mencapai 928,2 ribu ton. Capaian itu telah bertambah sebanyak 208,8 ribu ton dibandingkan realisasi Januari-Maret 2025 yang kala itu berada di 719,3 ribu ton.

Kendati demikian, Bapanas pastikan serapan CBP selama Maret ini akan terus meningkat.

"Ini adalah kerja keras kita semua yang membuahkan hasil di bawah gagasan besar Bapak Presiden (Prabowo Subianto), menggerakkan ekonomi rakyat, luar biasa. Kita sudah mulai ekspor ke negara lain dan insya Allah mudah-mudahan tiga negara menyusul, kita ekspor ke negara tetangga," beber Amran.

Bapanas juga menekankan agar penyaluran CBP yang dilaksanakan Perum Bulog melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dapat dilaksanakan sepanjang tahun. Namun dikecualikan pada wilayah sentra produsen padi yang sedang terdapat panen raya.

Selain itu, Bapanas juga menyatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga yang diterima petani padi hingga Februari 2026 berada di angka 144,84. Indeks harga itu masih lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang berada di 144,72.

Sementara puncak indeks harga yang diterima petani padi dalam 7 tahun terakhir ada di September 2025 dengan capaian sebesar 146,28. Indeks tersebut telah jauh melampaui capaian tahunan mulai Desember 2019 yang tercatat 109,22. Kemudian Maret 2020 di 108,82.

Lalu Januari 2021 di 108,19. Desember 2022 di 118,65 dan Desember 2023 di 137,75. Sementara indeks tertinggi di tahun 2024 ada di Februari dengan 146,08.

Baca juga: KSP sebut cadangan beras nasional paling kuat

Baca juga: Dirut Bulog perkuat strategi pengadaan cadangan beras 4 juta ton

Baca juga: Prabowo sebut cadangan beras RI 3 juta ton lebih, lampaui era Soeharto

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.