Hulu Sungai Utara (ANTARA) - Embun pagi masih menempel di pucuk padi muda, ketika Mahyudi (36) berdiri menatap hamparan sawah di Desa Hambuku Hulu, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Angin tipis dari rawa menyapu lembut helaian hijau, perlahan menggerakkan daun padi bersiap menyambut harapan baru bagi desa, yang selama ini menanti kemudahan.
Suasana itu menyimpan kisah perjuangan panjang puluhan tahun. Menuju sawah bukanlah perjalanan mudah. Jalan tanah berlumpur dan sering terendam air memaksa warga menempuh jalur memutar, melewati desa tetangga.
Saat panen tiba, karung gabah dipikul melewati jalan setapak sempit, licin, dan kadang tergenang luapan air. Keringat bercampur tanah, tawa terselip di tengah tantangan, menjadi bagian dari ritual hidup yang tak pernah mudah.
Kini, di hadapan Mahyudi, terbentang jalan tani baru hasil karya Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (Satgas TMMD) ke-127 Kodim 1001/Hulu Sungai Utara—Balangan. Selebar enam meter, panjang 400 meter, jalan ini bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah simbol harapan, penghubung masa depan yang lebih ringan dan cerah bagi warga yang bergantung pada sawah rawa.
“Dulu, harus jalan kaki jauh membawa hasil panen. Sekarang bisa langsung diangkut kendaraan. Sangat membantu,” ujar Mahyudi, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Usaha Bersama.
Bersama petani lainnya, ia menatap sawah yang menjadi sumber penghidupan sekaligus warisan desa.
Desa Hambuku Hulu dihuni sekitar 300 kepala keluarga, dengan populasi hampir 900 jiwa. Hamparan sawah produktif lebih dari 125 hektare menjadi penopang utama ekonomi desa. Jalan tani yang kokoh, kini membuka peluang lebih luas, distribusi hasil panen lancar, akses lebih aman, dan produktivitas pertanian meningkat.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.