Jakarta (ANTARA) - Lembaga analis pasar teknologi International Data Corporation (IDC) memprediksi krisis pasokan memori global masih akan berlanjut hingga 2027, yang berpotensi memberi tekanan pada industri komputer dan perangkat teknologi lainnya.
Manajer Riset IDC untuk Worldwide Mobile Device Trackers Jitesh Ubrani menyebut harga memori kemungkinan baru mulai turun pada 2028, meskipun pasar diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat harga seperti pada 2025.
“Kelangkaan memori akan berlanjut hingga setidaknya 2027. Kami memperkirakan harga mulai mereda pada 2028, tetapi pasar kemungkinan tidak akan kembali ke tingkat harga seperti pada 2025,” kata Jitesh dilansir dari Engadget pada Jumat.
Baca juga: HP ungkap harga memori capai 35 persen total biaya komponen PC
Seiring kondisi tersebut, IDC juga memproyeksikan penurunan pengiriman komputer pribadi (PC) global pada 2026. Lembaga itu memperkirakan pengiriman PC akan turun sekitar 11,6 persen pada tahun ini akibat keterbatasan pasokan memori, lebih besar dibandingkan prediksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan sekitar 8,9 persen.
Selain masalah pasokan komponen, IDC menilai ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk di Iran, berpotensi memperburuk kondisi industri komputasi dan teknologi secara keseluruhan.
Laporan tersebut juga sejalan dengan perkembangan di industri teknologi, di mana kenaikan harga memori telah memengaruhi sejumlah perusahaan, seperti HP, Samsung, Valve, dan Framework.
Harga komponen memori kemungkinan akan dirasakan oleh lebih banyak perusahaan teknologi dalam waktu mendatang, seiring sejumlah produsen telah menyesuaikan harga perangkat untuk mengimbangi peningkatan biaya produksi.
Baca juga: Harga ponsel OPPO dan OnePlus akan naik serentak mulai 16 Maret
Baca juga: Pengiriman ponsel diprediksi anjlok 12,9 persen akibat krisis memori
Baca juga: Samsung peringatkan potensi kenaikan harga imbas kelangkaan memori
Penerjemah: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.