Nama Sunan Gunung Jati begitu lekat dengan sejarah penyebaran Islam di Cirebon. Makam wali yang bernama Syarif Hidayatullah itu hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah terbesar di pesisir utara Jawa Barat.

Cirebon (ANTARA) - Jalanan di Kecamatan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, hampir tak pernah sepi. Kendaraan lalu lalang dan pedagang berseru menawarkan dagangan. Namun begitu kaki melangkah ke area makam, suasananya berubah tenang.

Sejumlah anak tangga membawa peziarah masuk lebih dalam. Cungkup beratap genteng merah berdiri di kiri-kanan jalan. Pepohonan tua menaungi area yang teduh, membuat udara terasa lebih sejuk.

Bangunan utama makam tampak bersahaja. Dindingnya berlapis keramik motif cokelat tua dengan atap bertingkat berhias kaligrafi. Beberapa peziarah berhenti di pelataran, merapikan sandal sebelum masuk dengan langkah pelan.

Di dalam bangunan, cahaya mentari menembus celah-celah jendela tinggi di bawah rangka kayu penopang atap. Sinarnya jatuh miring ke lantai dan dinding makam yang dilabur putih.

Dua peziarah duduk bersila menghadap pusara, menundukkan kepala dalam doa. Tidak banyak kata yang terdengar, hanya bisik-bisik zikir pelan nan khusyuk.

Lantunan ayat suci pun terdengar dari area tersebut. Pada Ramadhan 2026, suasana terasa semakin syahdu karena banyak peziarah yang menghabiskan waktu di area ini.

Kompleks makam di Desa Astana ini sejak lama menjadi tujuan ziarah untuk mencari ketenangan sambil mengenang jejak dakwah ulama masa silam.

Daya tarik

Nama Sunan Gunung Jati begitu lekat dengan sejarah penyebaran Islam di Cirebon. Makam wali yang bernama Syarif Hidayatullah itu hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah terbesar di pesisir utara Jawa Barat.

Orang awam tentu mengenal sosok Sunan Gunung Jati, yang tersohor sebagai ulama penyebar agama Islam serta pendiri Kesultanan Cirebon.

Setiap hari, terutama pada musim libur dan menjelang hari besar keagamaan, ribuan peziarah datang dari berbagai daerah untuk mengunjungi kompleks pemakaman tersebut.

Misalnya saja Doni (37), seorang peziarah asal Brebes, Jawa Tengah, yang mengaku sudah beberapa kali datang berziarah ke kompleks makam tersebut bersama keluarganya.

Pria berbadan kurus dengan kulit sawo matang tersebut menuturkan, ziarah ke makam ulama menjadi cara mengingat kembali sejarah dakwah Islam di wilayah Cirebon.

“Kadang, saya datang untuk mengenang para ulama yang dulu menyebarkan agama di sini,” ujarnya saat berbincang dengan ANTARA, Senin (9/3).

Hal senada disampaikan Indah (33), warga setempat, yang mengatakan kompleks makam tersebut hampir setiap hari didatangi pengunjung dari berbagai daerah.

Suasana pada kompleks makam ulama di Kecamatan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, Senin (9/3/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.

Ia kerap mengajak keluarganya datang ke kawasan Gunung Jati agar anak-anaknya mengenal tokoh sejarah Islam di Cirebon.

“Anak-anak jadi tahu siapa tokoh penyebar Islam di Cirebon dan bagaimana perannya dalam sejarah daerah ini,” ujarnya.

Ia menilai suasana kompleks makam yang dipenuhi pepohonan besar membuat tempat tersebut terasa lebih teduh dan menenangkan bagi para peziarah.

Keterkaitan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.