Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu mengatakan film Pelangi di Mars menjadi bukti sineas Indonesia yang berani mewujudkan keberaniannya mengeksplorasi genre fiksi ilmiah yang masih jarang dilakukan di industri perfilman Indonesia.

"Hal ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi narasi, tapi juga dari kemajuan teknologi produksinya untuk mengeksplorasi genre fiksi ilmiah atau sci-fi yang selama ini masih jarang digarap dalam perfilman nasional," kata ayu dalam acara intimate screening Pelangi di Mars di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan ini juga menjadi film Indonesia pertama yang memanfaatkan teknologi XR atau Extended Reality berbasis Unreal Engine yang memungkinkan penggabungan live action dengan XR secara real time.

Baca juga: Film “Pelangi di Mars” sapa publik lewat balon raksasa

Ayu juga mengapresiasi kolaborasi dalam ekosistem industri perfilman untuk mewujudkan film ini, di mana para kreator, rumah produksi, mitra teknologi dan berbagai stakeholders dapat bekerja dan bersinergi untuk menghadirkan karya yang inovatif.

"Industri film Indonesia saat ini sedang berada dalam momentum yang sangat baik.Tren ini juga terlihat dari semakin banyaknya film nasional yang mampu menembus jutaan penonton dan mendominasi daftar film terlaris di dalam negeri," katanya

Tak hanya dari segi teknologi, Pelangi di Mars juga mengangkat isu keberlanjutan lingkungan yang relevan dengan tantangan global saat ini.

Baca juga: Film "Pelangi di Mars" dijadwalkan tayang di bioskop pada 18 Maret

Pesan ini menjadi penting terutama bagi generasi muda yang semakin peduli dengan bumi yang ditinggali bersama.

Selain itu, Ayu mengatakan industri perfilman Indonesia kini sudah dalam tahap perkembangan dalam memperkuat ekosistem industri mulai dari memperluas akses pasar, promosi, dan distribusi yang harus diperluas sehingga bisa membuka peluang kolaborasi hingga internasional.

Kemenekraf juga akan mendukung skema pembiayaan untuk kekayaan intelektual yang memungkinkan karya kreatif memiliki sumber pendanaan yang lebih berkelanjutan, sekaligus dapat memperkuat ekosistem industri film nasional.

Baca juga: Messi Gusti ceritakan pengalaman syuting dengan teknologi XR

"Agar film Indonesia semakin diminati dan memiliki jangkauan yang lebih luas baik di pasar domestik maupun global," katanya.

Ia berharap ke depan dari adanya standar baru film Pelangi di Mars, dapat menjadi karya yang menginspirasi lebih banyak film Indonesia yang berani bereksperimen dengan teknologi baru dan mengeksplorasi berbagai genre.

Ayu pun berharap kehadiran film ini semakin menguatkan ekosistem film nasional sekaligus menegaskan sineas lokal mampu memproduksi film science fiction berstandar global.

Baca juga: Wajah baru film Indonesia, Ifan Seventeen ajak jadi saksi sejarah

Baca juga: Film "Pelangi di Mars" siap tayang di bioskop pada momen Lebaran 2026

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.