Tokyo (ANTARA) - Pemerintah Jepang mempertimbangkan untuk bergabung dengan sistem pertahanan rudal berlapis ganda milik Amerika Serikat, Golden Dome, yang keputusannya akan diumumkan pada pertemuan puncak bilateral di Washington, demikian menurut surat kabar Japan News, Jumat.
Dengan mengutip sumber dari Pemerintah Jepang, laporan surat kabar itu menyatakan bahwa pada pertemuan bilateral itu, kedua pihak akan membahas sistem pertahanan rudal dan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi akan mengumumkan maksud dan tujuannya bergabung ke Golden Dome itu.
Sistem pertahanan rudal berlapis Golden Dome, yang dipromosikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dijadwalkan akan diluncurkan pada Januari 2029.
Sistem tersebut melibatkan pengerahan pencegat yang mampu mencapai kecepatan lebih dari Mach 5, kendaraan luncur hipersonik (HGV), dan pesawat nirawak (drone) untuk melindungi wilayah Amerika.
Jepang berharap keterlibatannya dalam proyek tersebut memungkinkan mereka dapat menggunakan teknologi itu untuk pertahanan di negara mereka sendiri, demikian dilaporkan surat kabar tersebut.
Jepang dan Amerika juga bersama-sama mengembangkan rudal pencegat baru untuk HGV.
Para pengembang memperkirakan rudal baru itu dapat mencegat target luncur hipersonik selama fase luncur. Proyek tersebut dijadwalkan selesai pada tahun 2030.
Pengembangan dan promosinya lebih lanjut akan dibahas pada pertemuan puncak tersebut.
Jepang sedang mempersiapkan peluncuran jaringan satelit kecil untuk mengumpulkan informasi pada akhir Maret 2028.
Satelit pertama untuk sistem itu dijadwalkan akan diluncurkan pada April tahun ini, demikian laporan tersebut.
Pertemuan puncak bilateral Jepang dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung pada Kamis (19/3).
Pertemuan itu akan menjadi kunjungan pertama Takaichi ke Amerika sebagai perdana menteri.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.