Jakarta (ANTARA) - Vegetasi di sekitar kawah Gunung Iya di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan terbakar sejak 8 Maret 2026 dan masih terpantau hingga hari ini, Jumat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan kebakaran awalnya terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Iya dengan api yang merambat dari area lereng hingga mendekati bagian puncak gunung.
Pemantauan melalui kamera pengawas di Pos Pengamatan Gunung Iya menunjukkan titik api saat ini berada di sekitar kawasan kawah pusat gunung tersebut dan menghasilkan kepulan asap cukup tebal di area kawah gunung api tipe strato setinggi 637 meter di atas permukaan laut (dpl) itu
"Diduga titik api berada atau terperangkap di antara rekahan-rekahan pada tubuh gunung tersebut sehingga api masih bertahan di area tersebut," kata dia.
Lana menjabarkan bahwa sebagaimana pengamatan visual menggunakan drone pada 13 Maret 2026 memperlihatkan kebakaran berpusat di area kawah dengan beberapa titik api atau hotspot yang masih aktif.
Vegetasi yang masih relatif hijau di sekitar kawasan kawah membuat asap kebakaran tampak cukup pekat sehingga mudah teramati dari pos pengamatan.
Selain itu, ia menyebut bahwa petugas juga mengamati adanya sejumlah rekahan pada tubuh gunung di sektor selatan yang diduga menjadi lokasi terperangkapnya titik api sehingga api masih bertahan di area tersebut, namun luasannya masih dalam pendataan.
Berdasarkan analisis citra satelit dari NASA melalui sistem FIRMS pada 12 - 13 Maret 2026, terdeteksi sebaran titik panas yang memanjang dari sektor timur hingga selatan gunung, kemudian meluas ke arah selatan hingga barat daya.
Meski terjadi kebakaran vegetasi di sekitar kawah, Badan Geologi menyatakan hingga kini hasil pengamatan visual dan instrumental belum menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik signifikan pada Gunung Iya yang berstatus Level II atau Waspada, sehingga masyarakat dan pengunjung diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif serta tidak mendekati lubang tembusan gas di sekitar kawah guna menghindari potensi bahaya gas beracun.
Baca juga: Badan Geologi: Antisipasi potensi tsunami jika Gunung Iya erupsi
Baca juga: Badan Geologi catat getaran erupsi 50 detik Gunung Ibu di Maluku Utara
Baca juga: Gunung Ili Lewotolok di Lembata NTT turun level jadi Waspada
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.