Jakarta (ANTARA) - Setiap tahun jutaan orang melakukan perjalanan yang sama, yakni pulang ke kampung halaman, termasuk saya dan mungkin juga Anda.

Kita menyebutnya mudik, sebuah "ritual" tahunan yang berlangsung, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Jalan raya penuh. Terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara padat. Cerita tentang macet panjang selalu muncul. Melelahkan memang. Tentu juga menguras ongkos. Tapi, kenapa jutaan orang rela menempuh perjalanan panjang dan melelahkan itu hanya untuk pulang kampung beberapa hari?

Fase liminalitas

Sejatinya, mudik adalah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perjalanan pulang. Mudik adalah pengalaman sosial yang unik, ketika orang meninggalkan rutinitas hidupnya untuk masuk ke ruang sosial yang berbeda. Dalam antropologi, pengalaman seperti ini disebut sebagai fase liminalitas, sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Victor Turner (1920-1983), seorang antropolog budaya Inggris.

Turner mempelajari berbagai ritual dalam masyarakat tradisional dan menemukan bahwa banyak ritus kehidupan memiliki tiga tahap, yaitu pemisahan, fase liminal, dan reintegrasi. Liminal adalah fase "di antara", fase transisi, ketika seseorang tidak lagi berada dalam status lamanya, tetapi juga belum sepenuhnya memasuki status baru.

Maksudnya begini. Jika kita melihat mudik dari perspektif ini, fenomena itu seperti sebuah ritual nasional berskala besar. Ada fase pemisahan, ketika orang meninggalkan kota, kantor, rutinitas kerja, dan identitas profesional mereka untuk sementara waktu.

Perjalanan mudik itu sendiri menjadi fase liminal. Di dalam bus, kereta, kapal, pesawat, atau mobil pribadi, para pemudik berada dalam ruang transisi. Mereka belum sepenuhnya kembali menjadi "orang kampung", tetapi juga tidak lagi sepenuhnya berada dalam "dunia kota."

Dalam fase liminal ini, hirarki sosial yang biasanya terasa kaku sering kali mencair. Di jalan tol yang padat, mobil mewah dan mobil tua sama-sama terjebak macet. Di stasiun, para eksekutif dan buruh berdiri dalam antrean yang sama. Di bandara, pekerja kerah putih dan pekerja biasa berada dalam penantian yang sama. Perjalanan mudik itu menciptakan ruang sosial sementara, di mana banyak perbedaan status terasa lebih tipis.

Turner menyebut pengalaman semacam ini sebagai communitas, yaitu rasa kebersamaan yang muncul ketika orang berada dalam fase liminal. Communitas bukanlah hubungan sosial formal yang diatur oleh jabatan atau status, tetapi hubungan yang lebih spontan dan egaliter.

Mudik menghadirkan pengalaman communitas semacam ini. Orang yang tidak saling mengenal bisa dengan mudah berbagi cerita di perjalanan. Sesama pemudik saling membantu mengangkat barang di stasiun. Di kampung halaman, tetangga lama yang jarang bertemu kembali berkumpul dalam suasana yang lebih cair. Ada rasa kebersamaan yang muncul bukan karena struktur sosial formal, tetapi karena pengalaman bersama.

Lebih dari itu, ada hal menarik. Fase liminal juga mengubah cara orang memandang identitas dirinya. Jika di kota identitas seseorang sangat mungkin ditentukan oleh profesi, jabatan, atau tingkat pendapatan, maka di kampung halaman, identitas itu bergeser. Seseorang kembali menjadi seorang anak dari orang tuanya, teman masa kecil, tetangga lama, atau identitas apa pun itu. Pada akhirnya, hubungan sosial menjadi lebih personal dan lebih emosional.

Perubahan identitas ini menjadi cermin refleksi. Bahwa, hidup tidak hanya tentang karier atau kompetisi ekonomi. Pertemuan dengan keluarga, makan bersama, atau sekadar duduk santai bercengkerama bisa menjadi pengingat tentang nilai-nilai yang sering terabaikan dalam kehidupan kota yang serba cepat.

Sayangnya, fase liminal tidak berlangsung lama. Setelah beberapa hari, para pemudik kembali ke "kehidupan nyata". Kembali ke kantor, ke rutinitas kerja, dan ke struktur sosial yang lebih formal. Inilah fase reintegrasi dalam teori Turner, yakni ketika seseorang kembali memasuki kehidupan normalnya.

Keseimbangan sosial

Dalam konteks ini, mudik perlu dimaknai bukan sekadar perjalanan pulang. Tapi mudik adalah ritual sosial yang membantu masyarakat menjaga keseimbangan antara dua dunia yang berbeda: dunia rutinitas formal dan dunia komunitas asal.

Rutinitas formal memberikan peluang ekonomi dan mobilitas sosial. Sementara kampung halaman sebagai komunitas asal memberikan akar identitas dan rasa kebersamaan (collectivity).

Tanpa ritual mudik, mungkin hubungan antara dua dunia ini bisa menjadi renggang. Sebab urbanisasi sering kali menciptakan jarak emosional antara orang dan komunitas asalnya. Namun, mudik menjaga agar jarak itu tidak sepenuhnya terputus.

Oleh sebab itulah, tradisi mudik tetap bertahan di era teknologi digital, saat ini. Meski orang bisa berbicara dengan keluarga setiap hari melalui panggilan telepon atau panggilan video, komunikasi virtual tidak mampu menggantikan pengalaman sosial yang terjadi ketika orang hadir secara fisik.

Artinya, mudik menghadirkan sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi. Mudik menciptakan pengalaman liminal, ruang sementara di mana orang bisa keluar dari identitas rutinnya dan merasakan kembali kedekatan sosial yang lebih sederhana.

Mudik adalah jeda, yang memungkinkan orang berhenti sejenak dari ritme kerja yang cepat, mengingat kembali dari mana mereka berasal, dan menyadari bahwa identitas manusia tidak hanya dibentuk oleh pekerjaan atau kota tempat mereka tinggal.

Mungkin karena itulah mudik selalu terasa penting, bahkan bagi mereka yang harus menghadapi perjalanan panjang dan melelahkan. Sebab, ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni kebutuhan manusia untuk sesekali keluar dari struktur hidupnya, kembali ke akar sosialnya, dan merasakan kembali kebersamaan yang sederhana.

Pada akhirnya, mudik bukan hanya tentang pulang. Mudik adalah perjalanan singkat menuju ruang "di antara", tempat di mana identitas lama dan baru bertemu. Ruang di mana manusia mengingat kembali bahwa hidup bukan hanya soal ke mana kita pergi, tetapi juga tentang dari mana kita berasal.

*) Najamuddin Khairur Rijal, dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.