Jakarta (ANTARA) - Ratusan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bandung Raya bersama guru dan anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) berhasil mengkhatamkan Al Quran Braille pada momentum Ramadhan 2026 yang digelar di Masjid Ibnu Umi Maktum, Kota Bandung, Jawa Barat.

Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama M. Munir mengatakan Direktorat Pendidikan Agama Islam memiliki tugas melakukan pembinaan pendidikan agama Islam pada seluruh jenjang pendidikan, termasuk bagi siswa dan guru PAI di sekolah luar biasa.

“Kegiatan ini melibatkan 300 siswa SLB, 200 guru PAI pada SLB se-Bandung Raya, serta 200 anggota Pertuni. Siswa-siswi SLB ini adalah anak-anak yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT sehingga perlu mendapatkan perhatian,” ujar Munir dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, para guru PAI di SLB memiliki peran istimewa karena sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas dan harus memiliki kesabaran serta kemampuan ekstra dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno menyampaikan apresiasi kepada para siswa tunanetra, guru, serta pembina dari Pertuni yang telah membimbing mereka hingga mampu membaca dan mengkhatamkan Al Quran Braille.

“Kita boleh saja tidak melihat dengan mata, tetapi kita tidak boleh buta dalam hati dan semangat,” kata Suyitno.

Baca juga: Kemenag tegaskan praktik beragama mesti beri dampak sosial

Menurut dia, membaca Al Quran dengan huruf Braille bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan latihan dan ketekunan. Keberhasilan para siswa tunanetra mengkhatamkan Al Quran menjadi prestasi spiritual sekaligus bukti kesungguhan mereka dalam belajar.

Amien juga menegaskan bahwa tidak boleh ada perbedaan layanan pendidikan antara anak berkebutuhan khusus dan anak pada umumnya.

“Sebagaimana arahan Menteri Agama, seluruh anak Indonesia harus mendapatkan layanan pendidikan yang setara,” ujarnya.

Ia menambahkan Kementerian Agama terus mengembangkan program madrasah inklusi untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memperoleh kesempatan belajar yang layak.

Sementara itu, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Helmy Halimatul Udhma mengatakan khataman Al Quran yang dilakukan para siswa tunanetra menjadi bukti bahwa cahaya Al Quran dapat diakses oleh siapa pun tanpa batas.

“Ini bukan hanya capaian spiritual, tetapi juga bukti bahwa cahaya Al Quran dapat diakses oleh siapa pun tanpa batas. Inklusi bukan sekadar konsep, melainkan komitmen nyata agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pengembangan diri,” katanya.

Baca juga: Wamenag tegaskan pesantren benteng kerukunan Indonesia

Baca juga: Kemenag dorong integrasi sosialisasi terkait produk halal di Kampus

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.