Bantul (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastikan tidak ada kasus meninggal dunia akibat penyakit campak, meskipun angka kasus campak di daerah tersebut mengalami peningkatan.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto di Bantul, Sabtu, mengatakan, kasus campak di Bantul yang ditemukan selama periode Januari sampai 12 Maret 2026 tercatat sebanyak 17 kasus, sedangkan selama 2025 tercatat 14 kasus.

"Tidak ada yang menjalani perawatan, dan kondisinya sudah sembuh, hanya hasil dari laboratorium menunjukkan itu adalah campak, dan tidak ada yang meninggal," katanya.

Begitu juga kasus campak yang ditemukan di wilayah Bantul pada 2025, dari sebanyak 14 kasus tidak ada penderita yang meninggal dunia.

"Memang kalau melihat kasus ada peningkatan, tetapi tidak ada kaitan secara epidemiologi. Jadi, bukan KLB (kejadian luar biasa). Namun, memang ada peningkatan kasus yang kebetulan menyebar," katanya.

Baca juga: Dinkes Yogyakarta lakukan penyelidikan epidemiologi 6 kasus campak

Samsu mengatakan, sebaran kasus campak pada 2026 tersebut ada di wilayah Kecamatan Banguntapan, Dlingo, Kasihan, Pandak, Piyungan, Pleret, Sewon, dan Srandakan. Akan tetapi, paling banyak kasusnya di Banguntapan, ada lima kasus.

Dia mengatakan, sebagai pencegahan campak makin meluas, Bantul saat ini sedang menyiapkan imunisasi terbatas. Imunisasi campak pada kelompok umur sembilan bulan sampai 59 bulan yang belum imunisasi akan diberi imunisasi campak.

"Karena memang campak ini gampang menular. Oleh karena itu, kita akan segera lakukan imunisasi terbatas," katanya.

Dia mengimbau masyarakat kalau ada gejala yang mengarah pada campak, seperti batuk, pilek, mata kemerahan segera periksa ke fasilitas kesehatan setempat, agar segera dilakukan pengobatan untuk gejala tersebut.

Baca juga: Pakar UGM: Lonjakan kasus campak di RI masih bisa dikendalikan

"Sebaiknya tidak kontak dulu dengan orang lain, karena penularan melalui kontak langsung, kemudian jaga kesehatan dengan konsumsi gizi seimbang," katanya.

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.