counter

Menhan menilai Indonesia penuh ancaman beragam

Menhan menilai Indonesia penuh ancaman beragam

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Cianjur (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Jendral (Purn) Ryamizard Ryacudu, menilai bangsa Indonesia saat ini dalam kondisi penuh ancaman yang beragam, mulai dari dalam negeri, seperti ancaman persatuan dan kesatuan hingga ancaman yang datang dari luar negeri.

"Berbagai ancaman itu harus disikapi dengan cukup serius. Kini, ancaman nyata dan tidak nyata telah ada dihadapan kita. Untuk itu, kesadaran bela negara perlu ditumbuh kembangkan," katanya usai menghadiri Apel Akbar Nasional Barisan Patriot Bela Negara (BPBN) di Kampung Citampela, Desa Mulyasari, Kecamtan Mande, Cianjur, Minggu.

Meskipun banyak ancaman di depan mata, ungkap dia, hal lain yang harus terlebih dahulu dipahami dan dimengerti betul adalah makna dari bela negara. Menurut dia, bela negara adalah tindakan mengutamakan kepentingan negara dan bangsa di atas segala-galanya.

"Selain itu, menjaga harga diri dan kehormatan bangsa juga menjadi yang utama. Pada dasarnya, bela negara sudah tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan kewajiban warga negara untuk menjawab tantangan berbagai ancaman geopolitik," katanya.

Selama ini, tutur dia, bangsa Indonesia, tidak pernah mengganggu kedaulatan negara lain, namun jangan sampai negara lain mengganggu kedaulatan bangsa dan tanah air. Sedangkan ancaman dari dalam negeri, dia menyebut, narkoba harus diwasapadai karena memberikan ancaman yang sangat besar.

"Setiap harinya narkoba membunuh 50 orang di negeri ini. sehingga patriot bangsa haram bersentuhan dengan barang terlarang itu. Selain itu ancaman bencana alam termasuk dalam perhatian patriot bangsa," katanya.

Dia menjelaskan, sedangkan bentuk perang modern yang sangat nyata adalah acaman perang dengan sistem cuci otak dimana ideologi Pancasila tidak lagi dijadikan falsafah dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana nilai luhur bangsa digantikan dengan paham yang sesat-menyesatkan dan lahirnya teror.

"Sehingga banyak generasi muda yang tertarik dan masuk ISIS dengan doktrin yang salah dan bertopengkan agama Islam sebagai landasan perjuangannya. Kita semua bertanggung jawab untuk tetap menegakkan dan menamankan nilai Pancasila agar paham teror dari luar negeri bisa kita saring," katanya.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar