Bom bunuh diri tewaskan 70 orang, serangan paling mematikan di Baghdad

Bom bunuh diri tewaskan 70 orang, serangan paling mematikan di Baghdad

Orang-orang berkumpul di lokasi ledakan bunuh diri di Kota Sadr Baghdad, Minggu (28/2/16). Jumlah korban tewas dari dua ledakan bunuh diri di distrik utama Syiah Kota Sadr Baghdad meningkat menjadi 24 dengan lebih dari 60 lainnya terluka, menurut sumber polisi dan medis pada hari Minggu. (REUTERS/Wissm al-Okili/cfo)

Baghdad (ANTARA News) - Dua bom bunuh diri, yang dinyatakan dilakukan ISIS, menewaskan 70 orang di daerah Syiah di Baghdad pada Minggu dalam serangan paling mematikan di ibukota itu tahun ini, sementara milisi melancarkan serangan di wilayah pinggiran baratnya.

Sumber polisi mengatakan pengebom bunuh diri mengendarai sepeda motor dan meledakkan diri mereka di pasar telepon saku, yang ramai, di Kota Sadr, melukai lebih dari 100 orang selain yang tewas.

Saksi menyatakan melihat kubangan darah di tanah dengan sandal, sepatu dan telepon saku di tempat ledakan itu, yang tertutup untuk mencegah serangan lebih lanjut.

Dalam pernyataan dalam jaringan, ISIS mengatakan bertanggung jawab atas ledakan itu. "Pedang kami tidak akan berhenti memotong kepala orang musyrik penolak, di mana pun mereka berada," katanya, menggunakan istilah menghina bagi umat Muslim Syiah.

Pasukan Irak dukungan serangan udara dari sekutu pimpinan Amerika Serikat (AS) mendorong ISIS kembali ke provinsi Anbar barat baru-baru ini dan sedang mempersiapkan serangan untuk merebut kembali kota utara Mosul.

Tapi, milisi masih mampu menyerang wilayah yang berada di luar kekuasaan mereka, sering menyasar anggota yang kebanyakan Syiah Irak, terakhir pada Kamis ketika dua pengebom bunuh diri ISIS menewaskan 15 orang di sebuah masjid di ibukota.

Perdana Menteri Haider al-Abadi mengatakan serangan itu dalam menanggapi kekalahan terakhir ISIS: "Kelompok ini menyasar warga setelah kehilangan prakarsa dan sisanya melarikan diri dari medan perang sebelum petempur kebanggaan kami," katanya di halaman Facebook resminya.

Saat fajar pada Minggu, pelaku bom bunuh diri dan orang-orang bersenjata menyerang pasukan keamanan Irak di Abu Ghraib, merebut posisi di lumbung gandum dan pemakaman, dan menewaskan sedikitnya 17 anggota pasukan keamanan, kata para pejabat.

Pejabat keamanan menyalahkan ISIS dan kantor berita pendukung kelompok tersebut mengatakan kelompok itu melancarkan "serangan luas" di Abu Ghraib, 25 kilometer dari pusat Baghdad dan di sebelah bandara internasional.

Rekaman yang diedarkan kantor berita Amaq dalam jaringan muncul untuk menunjukkan petempur ISIS meringkuk di balik tanggul kotor dan melancarkan serangan dengan senapan otomatis, senapan mesin dan granat roket. Reuters tidak dapat memeriksa keaslian video.

Pasukan keamanan telah kembali menguasai sebagian besar wilayah pada Minggu malam namun para pejabat mengatakan masih ada bentrokan.

Pengamat keamanan yang bermarkas di Baghdad, Jasim al-Bahadli mengatakan serangan itu mengesankan terlalu dini untuk menyatakan ISIS kehilangan prakarsa di Irak.

"Pasukan pemerintah harus melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk memukul mundur serangan yang dilancarkan oleh Daesh. Apa yang terjadi hari ini bisa menjadi kekalahan bagi pasukan keamanan," katanya, menggunakan akronim bahasa Arab untuk ISIS.

Melawan

Sumber tentara dan polisi mengatakan milisi menyerang dari daerah terdekat, yang dikuasai ISIS, dari Garma dan Falluja, mengemudikan mobil tempur Humvee dan truk pikap dilengkapi dengan senapan mesin.

Jam malam diberlakukan saat resimen pasukan kontra-terorisme khusus Irak dikerahkan untuk merebut kembali silo di Abu Ghraib dan mencegah milisi mendekati bandara terdekat, kata beberapa pejabat keamanan.

Helikopter militer Irak membombardir posisi ISIS dan juru bicara Kementerian Dalam Negeri Brigadir Jenderal Saad Maan mengatakan sedikitnya 20 milisi tewas dalam serangan perlawanan dari pemerintah.

Petempur dari Hashid Shaabi, sebuah koalisi milisi utama Syiah dukungan Iran, dikerahkan untuk Abu Ghraib untuk memperkuat pasukan pemerintah rutin di daerah tersebut, kata Jawad al-Tulaibawi, seorang komandan Hashid setempat.

Ulama Syiah yang kuat Moqtada al-Sadr juga menyerukan petempurnya tetap waspada untuk melindungi Baghdad. Milisi Syiah seperti Sadr "Peace Brigades" dipandang sebagai benteng melawan kemajuan ISIS, yang meluas pada 2014, yang mengancam ibukota Irak dan kuil suci Syiah, demikian Reuters melaporkan.

(SYS/M052/B002)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Pimpinan MPR sebut teroris muncul akibat miskin rasa kebangsaan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar