Pengelolaan air, konservasi tanah, dan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan harus menjadi bagian dari strategi bersama
Jakarta (ANTARA) - Beberapa bulan terakhir banyak daerah di Indonesia kebanjiran. Sungai meluap, tanah longsor terjadi di berbagai tempat, dan air datang begitu deras dari hulu. Namun alam sering bergerak dengan cara yang tak terduga. Setelah periode hujan ekstrem, ancaman lain bisa datang: kemarau panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini akan mulai terasa di banyak wilayah Indonesia pada April 2026. Jika prediksi ini berkaitan dengan fenomena El Nino, maka kemarau yang datang bukan sekadar musim kering biasa. Ia bisa lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering.
El Nino adalah fenomena iklim global yang berawal dari perubahan suhu air laut di Samudra Pasifik. Perubahan ini memengaruhi arah angin dan pergerakan awan hujan di berbagai belahan dunia.
Bagi Indonesia, El Nino biasanya berarti berkurangnya hujan. Awan hujan yang biasanya terbentuk di wilayah Nusantara bergeser ke kawasan lain. Akibatnya, musim kemarau dapat berlangsung lebih lama dari biasanya.
Perubahan ini sering terasa secara perlahan. Awalnya hanya terlihat dari langit yang lebih cerah dan hujan yang semakin jarang turun. Tetapi di balik perubahan kecil itu, proses lain sedang terjadi di bawah permukaan tanah.
Kehilangan cadangan air
Tanah sebenarnya bekerja seperti spons raksasa. Ketika hujan turun, sebagian air meresap ke dalam tanah dan tersimpan di pori-porinya. Air inilah yang kemudian digunakan oleh tanaman untuk bertahan hidup di antara dua musim hujan.
Selama musim hujan, cadangan air ini biasanya cukup stabil. Namun ketika hujan berhenti dalam waktu lama, cadangan tersebut perlahan menipis.
Sementara itu, air di dalam tanah terus hilang melalui penguapan dan diserap oleh tanaman. Jika kondisi kering berlangsung berbulan-bulan, tanah yang biasanya lembap mulai kehilangan airnya.
Perubahan ini sering tidak langsung terlihat oleh mata, tetapi dampaknya sangat nyata bagi pertanian.
Salah satu tanda kekeringan yang paling mudah dikenali adalah munculnya retakan di permukaan tanah. Pada beberapa jenis tanah, terutama tanah yang banyak mengandung liat, permukaan tanah dapat menyusut ketika kehilangan air.
Retakan yang muncul mungkin terlihat kecil pada awalnya. Tetapi jika kemarau berlangsung lama, celah-celah tersebut dapat semakin dalam dan lebar. Tanah yang sebelumnya gembur berubah menjadi keras.
Retakan itu sebenarnya bukan sekadar tanda kekeringan. Ia menunjukkan bahwa cadangan air di dalam tanah sudah berkurang drastis.
Bagi petani, kondisi ini berarti tanaman semakin sulit memperoleh air. Tanah juga menjadi lebih sulit diolah.
Tanah bukan benda mati. Di dalam satu genggam tanah hidup jutaan organisme kecil seperti bakteri dan jamur yang membantu menyuburkan tanah.
Mereka bekerja menguraikan sisa tanaman menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tanaman berikutnya. Proses ini sangat penting bagi kesuburan lahan.
Namun organisme tanah sangat bergantung pada kelembapan. Ketika tanah mengering, aktivitas mereka ikut menurun. Akibatnya, pelepasan nutrisi ke tanah menjadi lebih lambat.
Tanah sebenarnya masih menyimpan unsur hara, tetapi tanaman tidak dapat memanfaatkannya secara optimal karena proses alami di dalam tanah terhambat oleh kekeringan.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.