Selama konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran belum menemukan jalan keluar, ketidakpastian energi akan terus membayangi pasar dunia.
Jakarta (ANTARA) - Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia.
Jalur laut di kawasan Teluk itu sebenarnya tidak terlalu luas. Panjangnya sekitar 150 kilometer. Pada titik tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer. Jalur pelayaran kapal tanker bahkan jauh lebih sempit, hanya sekitar tiga kilometer untuk masing-masing arah.
Namun, dari jalur sempit inilah salah satu nadi energi dunia mengalir.
Selat yang berada di antara Iran dan Oman itu menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Setiap hari kapal-kapal tanker membawa minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Ketika jalur ini terganggu, dampaknya bisa terasa jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Ketegangan terbaru muncul setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu eskalasi baru di kawasan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi dunia.
Tidak lama kemudian Iran mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Situasi ini membuat perusahaan pelayaran dan operator kapal tanker mulai menghitung ulang risiko pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Sebagian kapal memilih menunda perjalanan. Sebagian lainnya menunggu di perairan sekitar Teluk Persia sambil memantau perkembangan situasi.
Beberapa waktu kemudian Iran memberikan penjelasan.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Pembatasan, menurut mereka, hanya berlaku bagi kapal milik Amerika Serikat, Israel, serta sekutu mereka.
Meski begitu, ketidakpastian tetap menyelimuti jalur energi paling penting di dunia itu.
Pasar energi global pun segera bereaksi. Harga minyak mentah dunia sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel di tengah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat mengganggu jalur pasokan energi utama dunia.
Selat Hormuz memang bukan jalur pelayaran biasa. Jalur ini menjadi pintu keluar utama minyak dari negara-negara produsen energi di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Sekitar 17 juta hingga 20 juta barel minyak per hari melewati selat ini. Jumlah itu setara dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Selain minyak mentah, sebagian besar gas alam cair dari kawasan Teluk juga dikirim melalui jalur yang sama.
Karena peran strategis itulah, Selat Hormuz sering disebut sebagai “titik leher” energi dunia.
Gangguan kecil saja di jalur ini dapat memicu reaksi berantai di pasar global. Harga minyak melonjak. Biaya transportasi meningkat. Tekanan inflasi ikut dirasakan di berbagai negara.
Baca juga: Trump minta tujuh negara kawal kapal lintasi Selat Hormuz
Baca juga: Gejolak energi global dan urgensi ketahanan energi Indonesia
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.