Khususnya untuk pangan, juga perlu diperhatikan faktor yang bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga BBM, tapi termasuk masalah produksi dan juga distribusi,
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, sejumlah faktor yang mempengaruhi kenaikan harga pangan menjelang libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026.
“Khususnya untuk pangan, juga perlu diperhatikan faktor yang bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga BBM, tapi termasuk masalah produksi dan juga distribusi,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, ia mengatakan, perubahan musim juga menjadi salah satu faktor penentu dari jumlah produksi dan ketersediaan beberapa komoditas pangan dalam periode menjelang libur Lebaran tahun ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi Indonesia berpotensi menghadapi fenomena iklim global El Nino pada pertengahan hingga akhir tahun 2026.
Baca juga: BPS ingatkan kenaikan harga cabai rawit di sejumlah daerah
Fenomena tersebut dikenal dapat memicu perubahan pola cuaca secara signifikan, terutama berupa peningkatan suhu udara serta penurunan curah hujan di berbagai wilayah, sehingga musim kemarau di Indonesia berpotensi berlangsung lebih panjang dan terasa lebih kering dibandingkan kondisi normal.
“Apalagi ke depan ini, kita akan masuk ke musim panas, musim paceklik, El Nino yang relatif berkepanjangan yang kemungkinan besar, itu akan mempengaruhi juga terhadap produksi (pangan), yang artinya itu akan mempengaruhi juga terhadap suplai pangan kepada konsumen,” ujarnya.
Jika hal tersebut tidak ditangani dengan baik, lanjut Faisal, bisa mendorong kepada potensi inflasi.
“Apalagi kalau kemudian juga ada faktor global. Faktor global kenaikan energi dan juga ini bisa diikuti juga dengan kenaikan harga bahan-bahan yang lain, termasuk bahan pangan,” katanya.
Baca juga: Indef nilai kenaikan harga cabai menjelang Ramadhan inflasi musiman
Dalam konteks ini, dia menilai salah satu yang menjadi perhatian khusus adalah bahan pangan yang didapatkan dari impor seperti gandum hingga kedelai.
“Itu yang juga menjadi riskan dan perlu diperhatikan, karena faktor global juga mempengaruhi,” ujar Faisal.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.