Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Suasana Rumah Budaya "Roma Sondhuk" Probolinggo di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang biasanya tenang dan hening, kini mendadak ramai dikunjungi komunitas pegiat seni budaya karena selama dua hari digelar kegiatan "Ngaji Budaya dan Pameran Pusaka Nusantara 2026"

Kegiatan yang digelar pada 14-15 Maret 2026 itu menghadirkan pameran pusaka Nusantara, dialog budaya, hingga pertunjukan seni tradisional yang menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya merawat warisan budaya di tengah derasnya arus modernitas.

Founder Roma Sondhuk, sekaligus penggagas kegiatan, Nur Syamsi Zakariya mengatakan bahwa pelaksanaan "Ngaji Budaya" tahun ini sengaja dibuat berbeda dari sebelumnya agar semakin banyak yang hadir untuk menjaga warisan budaya yang terancam hilang, apabila tidak dilestarikan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan hanya berupa diskusi kebudayaan, namun tahun ini kegiatan tersebut dipadukan dengan pameran pusaka Nusantara yang menampilkan berbagai warisan budaya, seperti keris, tombak serta peninggalan masa lalu yang sarat nilai sejarah dan filosofi.

Selain diskusi, masyarakat juga bisa menyaksikan langsung warisan kebudayaan itu sendiri dengan pameran pusaka keris, tombak, dan berbagai peninggalan masa lalu yang merupakan hasil dari kebudayaan leluhur bangsa Indonesia.

Panitia juga menghadirkan para praktisi budaya, sekaligus mpu pembuat keris. Tercatat ada tiga mpu yang hadir, dua dari daerah lokal serta satu mpu dari Sumenep Madura, Mpu Ikka Arista yang dikenal sebagai satu-satunya mpu perempuan di Indonesia.

Mpu Ikka Arista menyoroti tantangan besar dalam dunia pusaka saat ini yakni persoalan regenerasi serta terputusnya pengetahuan dari generasi ke generasi.

Pada masa lalu banyak pusaka hanya disimpan, tanpa diwariskan cerita dan maknanya. Akibatnya, generasi berikutnya tidak lagi memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya keris tetap relevan dibicarakan di era digital sekalipun, karena benda tersebut sebagai identitas kultural, sehingga sampai kapanpun akan tetap relevan. Keris bukan sekadar benda sejarah, tetapi bagian dari jati diri budaya bangsa Indonesia.

Melalui kegiatan itu, Rumah Budaya di Probolinggo ingin mengajak generasi muda untuk memahami bahwa keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan bagian penting dari warisan kebudayaan Nusantara.

“Keris sejak dahulu bukan hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga simbol kebudayaan dan identitas leluhur bangsa Indonesia. Melalui kegiatan itu, kami ingin turut nguri-uri atau melestarikan pusaka Nusantara,” kata Nur Syamsi.

Di tengah perkembangan zaman yang sarat modernitas, keris tetap menjadi bagian dari identitas kultural bangsa Indonesia yang telah diakui dunia internasional sebagai warisan budaya, sehingga perlu dirawat dan dijaga.

Pada hari pertama, pengunjung yang datang di acara tersebut disuguhi pameran keris dan pusaka Nusantara yang menarik perhatian para pecinta budaya, kemudian malam harinya, suasana semakin semarak dengan pertunjukan seni musik tradisional khas Probolinggo, yakni Seronen yang dikenal dengan alunan serulingnya yang khas.

Untuk memperkaya wawasan, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif, menghadirkan narasumber utama KH Jadul Maula yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kaliopak Yogyakarta yang mengangkat "Menggali Akar Tradisi, Menggapai Pintu Langit (Keberkahan).

Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang diakui dunia memiliki kekuatan besar di bidang kebudayaan. Indonesia sesungguhnya adalah negara dengan super power kebudayaan.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.