Beijing (ANTARA) - Gunung Tian Tai, dengan ketinggian 258 meter, dikenal luas karena warisan budaya Taoisme. Catatan kuno menyebutkan bahwa tempat ini adalah lokasi di mana "bahkan orang biasa dapat menjadi seorang abadi".

Tempat ini juga menjadi tujuan populer bagi para penggemar Tai Chi yang tertarik oleh atmosfer spiritualnya.

"Gerakan tangan awan (yun shou) saya terasa kurang tepat. Apa yang harus saya lakukan?" Setelah menyelesaikan satu rangkaian gerakan Tai Chi, Zeela meminta saran kepada Zhang.

"Dalam gerakan tangan awan, jangan hanya fokus pada gerakan. Anda perlu menyatu dengan lingkungan dan berkomunikasi dengan diri batin Anda," jelas sang guru dengan sabar, sembari menerangkan kedalaman filosofi yang terkandung dalam berbagai teknik Tai Chi.

"Seni bela diri selalu menjadi bagian penting dalam hidup saya. Itu juga menjadi salah satu alasan utama saya datang untuk belajar di China," kata Zeela. Selama tinggal di Rizhao, kedua saudari tersebut tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka tentang bahasa dan budaya China. "Pengalaman-pengalaman ini sangat berharga bagi saya karena memberi banyak kesempatan untuk belajar dan melakukan pertukaran budaya," kata Zeela. Dia berharap dapat memperkenalkan budaya China yang kaya dan mendalam kepada dunia serta membangun jembatan antarbudaya.


Kecintaan Zeela terhadap Tai Chi berakar dari tradisi keluarga.

Kakeknya merupakan penggemar Tai Chi yang telah lama mempraktikkan dan mempelajari seni bela diri tersebut.

Kecintaan itu kemudian diwariskan kepada ayah Zeela, yang kemudian menjadi seorang atlet Tai Chi dan meraih prestasi yang baik dalam berbagai kompetisi di Indonesia maupun negara lain.

Kini, kecintaan pada Tai Chi tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya, yaitu Zeela dan adiknya.

Saat berbicara tentang kehidupannya di Rizhao, Zeela mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraan yang besar.

Rizhao Polytechnic, yang terletak di kota pesisir Rizhao di China timur, tidak hanya membuka pintu baginya untuk mempelajari bahasa dan budaya China, tetapi juga memberikan kesempatan berharga baginya untuk bertemu para penggemar Tai Chi lainnya dan terus meningkatkan kemampuannya.

"Pengalaman-pengalaman ini sangat berharga bagi saya karena memberi banyak kesempatan untuk belajar dan melakukan pertukaran budaya," kata Zeela. Dia berharap dapat memperkenalkan budaya China yang kaya dan mendalam kepada dunia serta membangun jembatan antarbudaya



Bagi kedua saudari tersebut, Tai Chi bukan sekadar seni bela diri, melainkan juga bentuk ekspresi budaya yang mengandung filosofi Timur.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring semakin eratnya hubungan antara China dan Indonesia melalui berbagai inisiatif seperti Sabuk dan Jalur Sutra (Belt And Road), semakin banyak anak muda Indonesia yang datang ke China untuk belajar dan menetap.

Berbagai tradisi China, termasuk seni bela diri, festival, dan kuliner, telah menjadi penghubung budaya penting antara kedua negara.

Sebagai penggemar Tai Chi sekaligus mahasiswa jurusan Ekonomi dan Perdagangan Internasional, Zeela berharap dapat menggabungkan pemahamannya tentang budaya China dengan ilmu yang dipelajarinya untuk mendorong kerja sama antara China, Indonesia, dan dunia yang lebih luas.

"Ekonomi China telah mencapai perkembangan yang luar biasa dan menjadi perekonomian terbesar kedua di dunia serta mitra dagang utama bagi banyak negara. Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt And Road Initiative/BRI) juga telah memberikan dorongan kuat bagi hubungan antara kedua negara kita," tutur Zeela.

"Saya berharap dapat menjadi jembatan antara China dan Indonesia, serta memperkenalkan keindahan budaya China kepada lebih banyak orang."

Pewarta: Xinhua
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.