Yogyakarta (ANTARA) - Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Masjid Jogokariyan di Kota Yogyakarta dipadati ribuan orang yang datang sejak sore, hingga menjelang magrib. Tidak hanya warga sekitar, pengunjung dari berbagai daerah turut memadati kawasan tersebut untuk merasakan suasana berbuka puasa yang telah menjadi tradisi selama lebih dari dua dekade.

Di pintu masuk kawasan, gapura bertuliskan "Kampoeng Ramadhan Jogokariyan" menyambut pengunjung yang datang silih berganti. Area tersebut menjadi pusat aktivitas selama Ramadhan, mulai dari berbagi takjil, hingga pasar sore yang dipadati warga.

Kepada ANTARA, Rabu (18/3), Koordinator Takjil dan Ketua Bidang 4 Masjid Jogokariyan Ismail Thoha Putra mengatakan kegiatan tersebut telah berjalan selama 22 tahun, dengan konsep berbuka puasa bersama yang konsisten dipertahankan.

“Setiap hari selama satu bulan penuh kami menyiapkan menu buka puasa. Tahun ini sekitar 3.800 porsi per hari,” kata Ismail.

Jumlah tersebut meningkat pada akhir pekan, ketika pengunjung membeludak. Panitia menambah porsi hingga sekitar 4.350 porsi per hari, meski jumlah tersebut kerap masih belum mencukupi.

“Kalau Jumat, Sabtu, Ahad itu bisa sampai 4.350 porsi, itu pun masih kurang,” ujarnya.

Semua pengunjung yang datang dipersilakan mengambil menu berbuka puasa dan diminta untuk mengonsumsinya langsung di lokasi.

Ismail menjelaskan penggunaan piring dilakukan untuk memastikan takjil benar-benar digunakan untuk berbuka puasa, sesuai dengan amanah para donatur.

“Ini amanah dari donatur untuk iftar, jadi kami ajak makan di tempat. Kalau pakai boks bisa dibawa pulang dan tidak dimakan, saat berbuka,” katanya.

Ia mengakui penggunaan piring memang lebih merepotkan, namun hal tersebut dipilih untuk menjaga tujuan utama berbagi makanan saat Ramadhan.

“Mungkin dibilang repot, tapi kami ingin memenuhi niat donatur untuk berbuka puasa bersama,” ujarnya.

Menu yang disajikan berbeda setiap hari dan telah dirancang sejak sebelum Ramadhan. Seluruh proses memasak melibatkan warga setempat yang tergabung dalam 28 kelompok dasawisma.

“Yang memasak ibu-ibu dasawisma, ada 28 kelompok. Mereka mengajukan menu, nanti kami atur supaya tidak sama,” ujar Ismail.

Proses distribusi dilakukan secara terstruktur. Makanan mulai dikirim dari dapur warga sekitar pukul 14.30 WIB, kemudian ditata oleh relawan, sebelum dibagikan menjelang waktu berbuka.

Selain makanan utama, panitia juga menyiapkan minuman khas berupa setup nanas yang menjadi identitas Kampoeng Ramadhan Jogokariyan.

“Setup nanas ini khas, munculnya setahun sekali di Jogokariyan,” katanya.

Di luar aktivitas berbuka, kawasan tersebut juga diramaikan oleh pasar sore yang diikuti 415 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas tersebut terlihat sejak memasuki area masjid, di mana seluruh pelaku usaha diberikan fasilitas lapak secara gratis.

“Gratis lapaknya, jadi mereka bisa berjualan di sini,” ujar Ismail.

Keberadaan pasar tersebut menjadikan kawasan Jogokariyan sebagai tempat ibadah sekaligus pusat aktivitas ekonomi warga selama Ramadhan.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.