counter

Obituari - Sang maestro jazz itu telah tiada

Obituari - Sang maestro jazz itu telah tiada

Ilustrasi. Jokowi Nonton Jakjazz. Gubernur DKI Joko Widodo (kiri) didampingi musisi Jazz Ireng Maulana (kanan) menikmati komposisi Jazz di Stage 3, JakJazz Festival 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (21/10/12) malam. Jokowi mengapresiasi diadakannya even musik internasional di Jakarta karena akan menambah semarak kota Jakarta. (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Jakarta (ANTARA News) - Di tengah perhelatan pesta musik Java Jazz Festival 2016 yang berlangsung selama 4-6 Maret di Jakarta, muncul kabar duka mendalam yakni meninggalnya musisi jazz legendaris Ireng Maulana, Minggu dinihari dalam usia 71 tahun akibat serangan jantung.

Sang maestro jazz Indonesia itu meninggal pukul 00.10 WIB setelah mengisi acara di kawasan Pondok Indah dan Senayan, Jakarta Pusat. Ireng mengeluh sakit saat itu, lalu dibawa rekan-rekannya ke rumah sakit, tapi di dalam perjalanan tidak tertolong.

Ireng Maulana, yang memiliki nama kecil Eugene Lodewijk Willem Maulana dan lahir di Jakarta, 15 Juni 1944, sepertinya tidak bisa dipisahkan dari musik jazz, sehingga tak salah jika dia menjadi salah satu musisi jazz legendaris di Tanah Air.

Bakat musik putra pasangan Max Maulana dengan Georgiana Sinsoe, menurun dari ayahnya, seorang pemain gitar asal Cirebon dan ibunya asal Sangir, adalah seorang penyanyi yang pandai memainkan piano.

Semasa kanak-kanak, ternyata adik kandung musisi jazz Kiboud Maulana ini dikenal amat bandel sehingga oleh orang tuanya terpaksa dititipkan kepada orang lain, untuk mengubah tabiatnya. Kebetulan yang menerimanya adalah tetangganya, orang Jawa, yang kemudian memberi nama baru "Ireng", yang artinya hitam, meskipun kulit si kecil putih bersih.

Sampai usia remaja Ireng belum berminat pada musik. Karena ada rasa tanggung jawab kepada keluarga, lantaran ayahnya meninggal, Ireng kemudian kursus bahasa Prancis dan mengetik, juga kursus pemegang buku bond A dan bond B, namun bakat musiknya mulai menggoda.

Kesenangan akan jazz mungkin turun dari pamannya, Tjok Sinsoe, pemain bass pada era jazz tahun 40-an.

Pada usia 16 tahun, Ireng sudah bergumul dengan alat musik, terutama gitar. Dia mulai ikut-ikutan kakaknya Kiboud Maulana, yang waktu itu sudah menjadi gitaris kondang.

Semula tujuannya bukan untuk mencari uang, hanya sekadar untuk gaya saja. Kemudian bergabung dengan grup band Joes & His Band, dan mulai turut serta pada festival-festival musik. Ternyata dalam lomba itu grupnya berhasil meraih juara ke dua, dan ia terpilih sebagai gitaris terbaik.

Dari kelompok Joes & His Band, ia bergabung bersama grup musik Gelora Samudra bermain di Hotel Des Indes Jakarta. Pada tahun 1960-an bersama Bing Slamet, Idris Sardi dan Eddy Tulis, mendirikan Band Eka Sapta.

Grup musik ini ditampilkan oleh Mus Mualim, untuk mengisi acara Pojok Jazz TVRI pada tahun 1970-an. Keinginan memperdalam permainan gitar membuat Ireng bertekad hijrah ke luar negeri selama beberapa tahun.

Dia belajar di City Line Guitar Centre Amerika Serikat, anehnya dia malah belajar memainkan gitar klasik. Setelah itu dilanjutkan untuk memperdalam musik di Konijnklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda. Mulai mempelajari musik jazz justru dari Mus Mualim. Pada tahun 1964, ia pernah melawat ke New York, turut berpartisipasi mengisi acara New York World Fair.

Tahun 1978 mendirikan grup Ireng Maulana All Stars dengan delapan anggota antara lain, Benny Likumahuwa, (trombone), Hendra Wijaya (piano), Maryono (saksofon), Benny Mustapha (drums), Karim Tes (trompet), Roni, (bass) dan Ireng Maulana sendiri pada (gitar dan banjo).

Kelompok ini terus berkembang hingga terbentuknya Ireng Maulana Associates, sebuah organisasi tempat bergabung para musisi jazz di Jakarta. Dengan lembaga ini pula Ireng menyelenggarakan pesta musik jazz internasional Jakarta Jazz Festival. Selain itu ia juga pernah ikut tampil di North Sea Jazz Festival di Belanda.

Penampilannya dalam Festival Jazz Internasional di Singapura, September tahun 1983, mungkin tidak terlupakan Ireng Maulana. Dengan membawa bendera Ireng Maulana All Stars, sambutan penonton di luar dugaan.

Mulanya terkesima, lalu di akhir pertunjukan mereka berdiri, bertepuk tangan, dan meneriakkan bisa (lagi) berkali-kali. Esoknya, pada tanggal 25 September 1983, surat kabar The Sunday Times, muncul dengan berita berjudul Standing Ovation for Jazz Group.

Hal yang konon belum pernah dilakukan sebelumnya oleh penonton Singapura, terutama untuk musik jazz. Kritikus jazz Balbier S. Marcus mengomentari mereka sungguh luar biasa dan sangat sempurna dalam bidangnya masing-masing.


Menggagas Jakjazz

Adik gitaris jazz Kiboud Maulana tersebut berperan dalam menggagas dan menyelenggarakan Jakarta International Jazz Festival atau JakJazz, yang pertama kali hadir pada 1988.

Ide gagasan mengenai JakJazz muncul ketika Ireng aktif berkesenian dalam komunitasnya di Taman Ismail Marzuki (TIM), di mana pada saat itu dia juga bergiat di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

JakJazz pertama diselenggarakan pada 18,19, dan 20 November 1998 di Panggung Maxima dan drive-in Ancol, di mana sebelumnya pembukaannya digelar di TIM. Festival musik tersebut diikuti oleh lebih dari 150 musisi jazz dari 23 negara.

Beberapa nama besar musisi yang mengisi acara tersebut antara lain gitaris jazz asal Amerika Serikat (AS) Lee Ritenour dan gitaris jazz fusion asal Jepang Kazumi Watanabe.

Ireng pada saat itu menobatkan JakJazz 1988 sebagai "Pesta Jazz Terbesar di Asia" setelah melakukan survei dan membandingkannya dengan festival serupa di negara-negara lain.

Setelah 1988, JakJazz kembali diselenggarakan pada 1990 dengan menghadirkan antara lain kelompok musik jazz asal Prancis Sixun dan kelompok musik fusion jazz asal Jepang Casiopea.

Pada gelaran JakJazz 1993, kelompok musik fusion jazz-funk asal Islandia Mezzoforte turut meramaikan acara. Di tahun 2008, JakJazz memasuki edisi ke sepuluhnya.

Kemudian, pada 4 November-7 Desember 2014 diselenggarakan Jakjazz Festival 2014 dengan menampilkan konsep festival kota (city festival). Pada 2015, Ireng juga turut berperan dalam penyelenggaraan Enjoy Jakarta Jazz Festival 2015 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Dikenang Sepanjang Masa

Banyak kalangan merasa kehilangan atas kepergian, sang maestro jazz Ireng Maulana yang banyak memiliki sumbangan dalam membesarkan musik jazz khususnya di Tanah Air.

Psikolog Tika Bisono menyebut karya Ireng akan dikenang sepanjang masa.

Musisi country tanah air Tantowi Yahya mengungkapkan, Ireng Maulana merupakan seorang motivator. Dengan siapa pun, dia selalu memberikan pesan kemajuan.

"Jadi ketika semasa hidupnya sangat menyemangati saya untuk terus mengembangkan musik country di Indonesia," ujarnya.

Putra sang maestro, Tomi Maulana menyatakan, selama hidupnya, ayahandanya adalah sosok mentor yang baik. Saat ini bahkan almarhum memiliki banyak anak didik.

"Termasuk saya, saya melihat dia juga sebagai sahabat," katanya.

Tomi juga mengungkapkan, sebelum meninggal, ayahnya selalu memiliki aktivitas, ia tak pernah duduk diam di rumah, suka bercocok tanam.

Tak hanya itu, Ireng belakangan juga memiliki beberapa aktivitas rekaman musik, bahkan ada proyek yang juga ingin direkamnya.

Salah satu sahabat Ireng Maulana, Peter Gontha menyatakan, Ireng adalah sosok yang tidak mudah menyerah. Pihaknya pun berencana untuk membuat tribute bagi pemain gitar tersebut.

"Pasti akan kita lakukan (tribute buat Ireng)," ujar penggagas Java Jazz Festival itu.

Sang Maestro kini telah tiada, dia telah kembali ke pangkuan Tuhan, seperti harapannya yang ingin dipanggil saat bermain musik.

Ireng memiliki jasa besar dalam perkembangan musik jazz di Tanah Air, dan Indonesia kehilangan sosok yang tak pernah berhenti membaktikan hidupnya untuk seni.

Rencananya, jenazah Ireng Maulana akan dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Senin (7/3)

Ireng memiliki riwayat penyakit jantung. Ia bahkan telah terkena stroke sekitar 2012 silam. Selama ini dia telah berjuang melawan penyakit yang dideritanya, namun Tuhan berkehendak lain.

Terima kasih Ireng Maulana atas bakti dan karyamu untuk musik Jazz Indonesia. Selamat jalan sang legenda.

Oleh RZ. Subagyo
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar