Mudik adalah tentang menjaga keseimbangan. Antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan teknologi, antara emosi dan rasionalitas

Mataram (ANTARA) - Mudik Lebaran 2026 di Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan satu hal penting, yakni kemajuan teknologi belum mampu menggantikan makna kehadiran fisik dalam tradisi sosial masyarakat.

Di tengah dunia yang semakin terhubung melalui layar dan komunikasi digital, keputusan jutaan orang untuk tetap pulang kampung menunjukkan bahwa relasi manusia tidak sepenuhnya bisa dimediasi oleh teknologi.

Prediksi Kementerian Perhubungan menunjukkan jumlah pemudik nasional mencapai 143,91 juta orang atau lebih dari separuh penduduk Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin kuatnya daya tarik kampung halaman.

Di NTB, arus kedatangan pemudik kembali menggeliat, meski masyarakat kini hidup dalam era komunikasi tanpa batas. Pertanyaannya, mengapa perjalanan yang melelahkan ini tetap dipertahankan bahkan ketika teknologi menawarkan kemudahan untuk “bertemu” tanpa bergerak?

Di sinilah mudik menjadi fenomena yang menarik untuk ditelaah, yakni ia bukan sekadar mobilitas manusia, melainkan peristiwa sosial, budaya, dan ekonomi yang melampaui logika efisiensi modern.


Tak tergantikan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.