Denpasar (ANTARA) - Situasi dunia, saat ini sedang tidak baik-baik saja, setelah konflik meletus pada 28 Februari 2026 yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel kontra Iran.
Bahkan, mendekati pekan terakhir Maret, belum ada tanda-tanda memanasnya hubungan dua kubu itu mereda.
Gencatan senjata dan negosiasi masih belum menemukan titik terang.
Secara jarak, peristiwanya memang jauh dari Indonesia, namun dampaknya terasa, hingga di tanah air, khususnya Bali yang mayoritas ekonominya dijalankan dari geliat pariwisata.
Ketegangan di wilayah Timur Tengah itu berdampak terhadap penutupan ruang udara yang menyebabkan mobilitas manusia melalui transportasi udara terkendala.
Pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali mencatat sejak serangan pertama di Iran pada 28 Februari hingga 6 Maret 2026, ada 64 jadwal penerbangan rute internasional, baik yang berangkat (34 penerbangan) dan tiba (30 penerbangan), terpaksa dibatalkan.
Berdasarkan data maskapai penerbangan yang dikumpulkan Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, selama periode itu ada 8.187 penumpang internasional yang hendak berangkat, terpaksa harus menunda jadwal terbang.
Rata-rata wisatawan yang terdampak itu menempuh rute penerbangan transit di Doha, Abu Dhabi, dan Dubai, untuk melanjutkan perjalanan ke negara asal, misalnya Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa.
Gubernur Bali Wayan Koster menyebutkan akibat dampak penutupan udara itu, diperkirakan ada pengurangan kunjungan turis asing sekitar 800 orang per hari.
Kini, lalu lintas penerbangan sudah perlahan kembali berjalan, setelah ruang udara di Timur Tengah dibuka kembali, meski dilakukan secara terbatas, dalam situasi yang belum bisa diprediksi.

Mitigasi Bali
Pemikiran pakar pemasaran modern, sekaligus profesor dari Northwestern University AS Philip Kotler dan profesor dari North Carolina University AS Gary Amstrong, setidaknya dapat menjadi petunjuk bagaimana pemasaran mendorong geliat ekonomi, saat situasi sulit itu.
Dalam buku bertajuk Principles of Marketing edisi ke-17 cetakan tahun 2018, para pakar itu menyebutkan secara sederhana, yakni menarik pasar baru dan mengelola pasar yang selama ini telah memberikan nilai tambah.
Dari gagasan itu, diversifikasi pasar menjadi salah satu kunci yang bisa dilakukan agar geliat ekonomi di Bali yang sebagian besar didorong pariwisata bisa terus berkelanjutan.
Pasar-pasar pariwisata yang kini mencuat, misalnya India, China, Korea Selatan atau Jepang dan negara Asia Tenggara lainnya menjadi harapan untuk terus digenjot.
Indikatornya adalah tersedia banyak penerbangan langsung menuju dan dari Bali melalui negara-negara itu, tanpa melalui transit di kawasan Timur Tengah, yaitu Doha, Dubai, dan Abu Dhabi yang kondisinya rentan karena berada di wilayah konflik.
Indikator lain adalah mulai banyak berdatangan turis dari negara tersebut mengunjungi Bali.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada 2025, kedatangan turis asal India menduduki posisi kedua mencapai 569 ribu lebih dan ketiga diduduki China sebanyak 537 ribu lebih.
Kemudian gagasan kedua adalah menjaga pasar tradisional yang konsisten sudah memberikan dampak positif kunjungan wisatawan mancanegara kepada Bali, yaitu pasar Australia.
Negara tetangga selatan Indonesia itu, kini berturut-turut menduduki posisi puncak kedatangan turis asing di Bali, sejak pandemi COVID-19 berakhir.
Sementara pada 2025, wisatawan asal Negeri Kanguru itu berkontribusi sebesar 1,6 juta lebih.
Apabila mencermati peningkatan secara persentase, kedatangan turis dari China, Korea Selatan, dan Jepang terbilang tinggi, masing-masing 19,83 persen, 17,91 persen dan 17,96 persen pada 2025 dibandingkan 2024.
Selama 2025, total ada 6,94 juta wisatawan asing mengunjungi Bali atau naik 9,72 persen dibandingkan 2024.
Hal yang menjadi pekerjaan rumah, saat ini, salah satunya adalah membuka lebih luas akses penerbangan langsung Bali-Jepang.
Sebelumnya, maskapai dari Negeri Matahari Terbit itu membuka penerbangan langsung di Bali, namun, kini, sudah terhenti dan yang ada hanya dilayani Garuda Indonesia.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.