Alih-alih mengandalkan sistem senjata eksklusif yang mahal, Iran mengembangkan produksi massal drone dan rudal berbasis kemandirian industri domestik

Jakarta (ANTARA) - Dunia terlalu lama memandang peperangan sebagai adu kecanggihan senjata. Sejak berakhirnya Perang Dingin, narasi dominan menempatkan teknologi sebagai penentu kemenangan dalam peperangan.

Negara dengan satelit paling mutakhir, pesawat tempur siluman paling canggih, serta rudal presisi paling akurat diyakini selalu lebih unggul. Dalam konteks peperangan, cara pandang ini dikenal sebagai Revolution in Military Affairs (RMA/revolusi urusan militer). RMA telah menjadi sebuah doktrin yang berkembang pesat di tangan kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat (AS).

Dalam doktrin tersebut, perang dipahami sebagai perkara kecepatan sensor membaca ancaman dan menghalaunya, kecerdasan sistem komando mengolah data, dan presisi senjata menghantam sasaran. Cepat, akurat, dan menentukan.

Namun, sejarah mutakhir menunjukkan kenyataan yang jauh lebih rumit. Keunggulan teknologi memang menghadirkan daya hancur luar biasa, tetapi tidak selalu berbuah kemenangan dan dominasi.

Medan konflik modern justru memperlihatkan paradoks bahwa dominasi secara militer kerap terjebak dalam perang panjang yang mahal, melelahkan, dan menggerus legitimasi politik sebuah negara di mata pemimpin dunia. Kemenangan tak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat memukul, melainkan siapa yang paling siap bertahan.

Pendekatan tersebut tampak jelas dalam strategi Republik Islam Iran.

Negara ini menyadari satu realitas bahwa mereka tidak mungkin menang apabila bertarung di arena yang dirancang negara adidaya AS dan sekutunya, Israel. Iran tidak memiliki armada kapal induk, tidak menguasai supremasi udara global, dan tidak menikmati akses bebas pada rantai pasok teknologi militer mutakhir sebagaimana AS dan Israel.

Sanksi panjang yang diterima Iran justru membatasi ruang gerak modernisasi konvensional. Namun, keterbatasan tidak selalu berarti kelemahan strategis. Mereka tidak memburu perang kilat yang spektakuler, melainkan konflik panjang yang menguras daya tahan lawan.

Perubahan cara pandang ini membawa kita pada konsep yang lebih luas, yaitu Revolution in Civil-Military Affairs (RCMA). Jika RMA berbicara tentang revolusi teknologi dan doktrin tempur, RCMA melangkah lebih jauh.

RCMA memandang perang sebagai orkestrasi total seluruh instrumen negara, yaitu militer, ekonomi, diplomasi, industri, informasi, bahkan psikologi publik. Garis pemisah antara sipil dan militer menjadi kabur. Negara tidak lagi bertempur hanya dengan tentaranya, melainkan dengan seluruh ekosistem kekuatannya.

Pendekatan semacam inilah yang perlahan membentuk watak strategi Iran. Melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan unit eksternalnya, Pasukan Quds, Iran membangun jejaring pengaruh yang tidak menyerupai struktur militer konvensional.

Relasi dengan aktor nonnegara di berbagai kawasan konflik dirajut menjadi simpul-simpul perlawanan yang lentur, adaptif, dan sulit dipetakan dengan logika perang tradisional sehingga menciptakan kebuntuan strategis.

Batas pertahanan didorong jauh di luar batas negara yang dikenal dengan Forward Defense. Dengan strategi ini, Iran dapat menyangkal keterlibatan langsung pada serangan di negara-negara tetangganya. Di saat yang sama Iran juga dapat mengklaim sebagai target yang sah pada setiap serangan balasan dengan alasan bahwa target tersebut digunakan sebagai basis penyerangan oleh AS dan Israel.

Tidak ada pusat gravitasi tunggal yang bisa dihancurkan untuk mengakhiri konflik. Ketika satu titik ditekan, titik lain menyala. Ketika satu kelompok dilemahkan, jejaringnya tetap hidup. Konflik menjelma menjadi medan bayangan. musuh terasa nyata, tetapi sulit disentuh secara menentukan.

Jenderal Qasem Soleimani

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.