Perang di Timur Tengah mungkin terasa jauh. Tapi jika pupuk tersendat, dampaknya bisa sangat dekat, bahkan sampai ke meja makan kita sendiri
Jakarta (ANTARA) - Perang di Timur Tengah sering dipahami sebagai konflik energi. Namun di balik itu, ada ancaman lain yang mengintai: krisis pangan yang dimulai dari tanah.
Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan lautan lepas, bukan hanya dilalui tanker minyak. Jalur ini juga menjadi arteri penting distribusi pupuk global, terutama pupuk nitrogen (urea).
Hampir separuh perdagangan urea dunia bergantung pada kawasan ini. Ketika konflik mengganggu stabilitasnya, yang terhenti bukan hanya aliran energi, tetapi juga aliran unsur hara yang menopang produksi pangan global.
Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi pupuk dunia, terutama pupuk nitrogen (urea) dan bahan baku pupuk fosfat.
Secara global, kawasan ini menyumbang sekitar 15–20 persen produksi pupuk nitrogen, dan mendominasi perdagangan internasional dengan hampir 40–50 persen ekspor urea global berasal dari negara-negara Teluk.
Qatar, Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Oman memiliki keunggulan karena ketersediaan gas alam sebagai bahan baku utama. Qatar memproduksi sekitar 6 juta ton urea per tahun, sementara Iran diperkirakan mencapai 6–8 juta ton per tahun.
Arab Saudi, melalui industri petrokimia berskala besar, serta Uni Emirat Arab dan Oman, turut memperkuat posisi kawasan ini sebagai tulang punggung pasokan pupuk nitrogen dunia.
Untuk pupuk fosfor, Arab Saudi juga merupakan salah satu produsen utama dunia dengan kapasitas sekitar 6–7 juta ton pupuk fosfat per tahun. Ini menunjukkan bahwa Timur Tengah tidak hanya menjadi pusat pupuk nitrogen, tetapi juga bagian penting dalam rantai pasok fosfor global.
Dampak global
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.