counter

Tradisi ngopi masih kental di Belitung

Tradisi ngopi masih kental di Belitung

Ishak Holidi, penerus kedai kopi Kong Djie sedang meracik kopi untuk pelanggan di Tanjung Pandan, Belitung pada Kamis (10/3/2016). (ANTARA News/Ida Nurcahyani)

Jakarta (ANTARA News) - Mengunjungi Belitung, selain bentangan pantai-pantai nan indah, mata juga akan disuguhi pemandangan jajaran kedai kopi yang menjadi tempat menghabiskan waktu mulai dari remaja hingga manula.

"Habis mau bagaimana, di Belitung tidak ada mal seperti di Jakarta, jadi anak-anak muda di sini kalau siang nongkrong-nya ya di kedai kopi, nanti kalau malam kami baru geser ke kafe-kafe," kata Lili Suryanti (27), salah seorang penduduk asli Tanjung Pandan, Belitung yang juga merupakan pemandu wisata media visit gerhana Matahari total (GMT) bersama Dwidayatour dan Citilink pada Rabu (9/3).

Di Kabupaten Belitung, ada dua kedai yang terkenal, kedai "Kopi Ake" di kawasan "Kafe Senang" tak jauh dari Bundaran Tugu Batu Satam, dan kedai "Kopi Kong Djie" yang berada di depan Gereja Regina Pacis.

Kedai "Kopi Ake" adalah yang tertua se-Belitung. Pemiliknya, Akeong (61) adalah generasi ketiga. Dahulu, tahun 1922, kakek Akeong bernama Abok berjualan kopi menggunakan gerobak di bawah tugu jam. Para pejabat Belanda penguasa Belitung kemudian membangun kawasan "Kafe Senang" yakni tempat mereka sering nongkrong dan bersenang-senang.

Gerobak Abok pun diboyong masuk ke kawasan "Kafe Senang" untuk melayani para pejabat Belanda. Setiap hari, sejak pukul 06.00 pagi, Akeong sudah membuka kedainya. Orang-orang sehabis berolah raga biasa mampir ke kedainya untuk sarapan dan minum kopi. Menu yang disuguhkan untuk teman minum kopi adalah nasi gemuk atau sejenis nasi uduk yang diberi lauk ikan teri, kue-kue pasar atau telur setengah matang dengan bumbu lada dan kecap asin.

Hampir semua peralatan meracik kopi yang digunakannya sekarang adalah peralatan sama yang digunakan Abok 94 tahun silam. Akeong masih mempertahankan ketel tembaga merah untuk memasak air, dia juga masih menggunakan wadah air porselen "The Brownlow" dari Inggris warisan kakeknya yang diyakini bisa menjaga air tetap dingin meski di luar sana udara panas membara. Ada juga alas meja plat besi yang masih dipakainya.

Tahun 2012, kawasan "Kafe Senang" dirombak, ruko-ruko dipercantik. Akeong tak lagi memakai tungku arang. "Kalau pakai arang, abu ke mana-mana, makanya sekarang saya pakai kompor gas saja, enggak ada yang protes. Pelanggan tetap suka," kata Akeong.

Selain tak lagi mempertahankan tungku arang, Akiong kini juga tak lagi menggiling bijih kopi Lampung dan Palembang yang jadi bahan utama di kedainya.

"Tak ada lagi tenaga, biarlah kawan saja yang menggilingnya, saya ambil di kawan," katanya.

Kong Djie

Kedai kopi lain yang tersohor se-Belitung adalah "Kong Djie Coffee", terletak di depan Gereja Regina Pacis, tak jauh dari bundaran Tugu Batu Satam, Tanjung Pandan, Belitung.

Meski bukan yang pertama berdiri di Belitung, namun Kong Djie mungkin satu-satunya kedai yang mempertahankan keotentikan cita rasa dan suasana ngopi sejak tahun 1943.

Kedai Kong Djie tampak modern dari luar, namun, kedai kopi Kong Djie yang pertama masih mempertahankan kondisi bangunan interior di dalam kedai.

Kong Djie masih mempertahankan ceret tinggi bersisi biang kopi yang khas kopi jaman dulu. Meski bahan ceret kini diganti aluminium yang lebih ringan ketimbang tembaga.

Ada tiga ceret di kedai Kong Djie. Satu ceret tinggi sekitar satu meter dan dua ceret lain yang berukuran separuhnya. Ayah Ishak dulu memakai ceret-ceret tembaga berukuran 30 senti meter, namun, kini Ishak harus memodifikasi ceretnya menjadi tinggi karena pelanggan semakin banyak.

"Itu untuk bikin induk kopi, kapasitasnya satu kilogram,  kopi bubuk yang diseduh pakai air, nanti itu kopi induk dituang melalui saringan kaos 555 ke gelas-gelas baru diseduh lagi pakai air, ada yang mau kentel sekali, ada yang suka encer saja, kita masih pakai tungku arang supaya aromanya keluar. Memang sekarang dicampur pakai gas juga sih karena cari arang susah. Perubahan dari pakai ceret tembaga ke aluminium itu enggak ada pengaruh ke cita rasa, sama saja," kata Ishak sambil memandangi ke dalam kedai yang muat sampai 50 orang pada Sabtu dan Minggu.

"Melting pot"

Menginjakkan kaki ke dalam kedai Kopi Ake maupun Kong Djie, tampak orang-orang santai mengobrol seperti di dapur milik neneknya sendiri.

Meski demikian, di kedai kopi Ake, orang-orang masih memiliki sikap duduk yang baik dengan duduk di bangku secara wajar dan menyesap kopinya sambil menikmati suasana jalanan Belitung. Mungkin karena kedainya terbuka.

Namuun, di Kong Djie, pemandangan jauh lebih bervariasi. Orang-orang da yang angkat kaki ke bangku sambil main catur, ada yang membaca koran kemarin sore, bahkan ada yang sedang dipijit santai telapak kakinya.

"Kebiasaan orang di sini dulu main catur gajah, catur gajah itu catur yang suka dimainkan orang Cina. Selain itu, sejarah minum kopi di sini, erat kaitannya sama SDSB jaman Soeharto dulu. Orang-orang kemari membaca arti mimpi mereka ramai-ramai," kata Ishak.

Bukan hanya orang Melayu, orang Hakka, orang Hokkian, suku Sunda, Jawa, dan Batak semua ada di kedai kopi Kong Djie. Terdengar dari aksen kental bahasa ibu masing-masing.

"Bagi kami orang Belitung, kedai kopi adalah ruang publik tempatnya bersosialisasi dan bertukar informasi soal apa saja, mau kritik pemerintah, mau curhat soal kelakuan oknum aparat, di sinilah mereka melepasnya.

Ishak menyebutnya sebagai "ruang mediasi". "Kalau warga ada keluhan atau apa, bawa saja kemari, dibicarakan. Makanya di Belitung sini enggak pernah ada demo, iya ndak?" katanya sambil tertawa.

Kedai kopi, bagi sebagian besar penduduk Belitung sudah layaknya aliran kepercayaan. "Banyak pelanggan yang kakeknya minum di sini, cucunya pasti minum di sini juga," kata Ishak.

Meski sudah minum kopi di rumah, penduduk Belitung akan tetap pergi ke kedai kopi untuk membeli kopi yang kini dihargai rata-rata Rp15.000 segelas.

Bagas Prasetyo (20), salah seorang pelanggan mengatakan bisa betah seharian "nongkrong" di kedai kopi.

"Rasanya beda ngopi di kedai sama di rumah. Di sini bisa ketemu banyak orang. Khusus Kong Djie ini, saya suka karena lebih dewasa. Laki-laki dewasa Tanjung Pandan kumpulnya di sini ini lah," kata Bagas yang mengaku sudah datang ke Kong Djie sejak diajak sang kakek.

Sekali duduk, Darul Pikri (20), pelanggan setia Kong Djie lain, mengaku bisa menghabiskan dua hingga tiga gelas kopi dalam satu jam.

"Di sini ini bisa membuka koneksi, saya bisa nanya-nanya bisnis, belajar soal hidup sama orang-orang di kedai kopi ini. Apalagi sekrang di sini sudah ada wifi, saya jadi semakin betah," katanya.

Selain menjual kopi jadi, biasanya di kedai-kedai kopi tersebut menjual kopi bubuk hasil racikan masing-masing maestro di kedai.

Berbeda dengan Belitung Barat, khususnya di Tanjung Pandan yang kedai kopi-nya sudah masuk ruko-ruko atau kafe-kafe kelas menengah, di Belitung Timur, tradisi "ngopi" justru lebih kental di pasar-pasar atau di warung-warung.

Jumlah warung kopi di Manggar, Belitung Timur, misalnya, sangat banyak. Mereka berjajar berdamping-dampingan tapi memiliki pelanggan setia masing-masing.

Tradisi ngopi di Belitung Timur dikenal juga dengan ngopi kuli. Dahulu, para pekerja tambang timah selalu minum kopi di warung-warung saat pagi sebelum berangkat menambang. Rata-rata, warung kopi masih menggunakan anglo dan memiliki cita rasa khas masing-masing.

Oleh Ida Nurcahyani
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar