Jakarta (ANTARA) - Di banyak perbincangan tentang pertanian, istilah tengkulak hampir selalu hadir dengan nada curiga.

Tengkulak digambarkan sebagai sosok yang mengambil keuntungan dari keringat petani, membeli saat harga rendah dan menjual saat harga tinggi, bahkan kerap menjerat dengan utang berbunga tinggi.

Dalam narasi populer, tengkulak menjadi simbol ketimpangan dalam rantai pasok pangan. Hanya saja, jika menengok lebih dekat kehidupan di perdesaan, gambaran itu tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih.

Di sanalah “kiprah tengkulak” menjadi fenomena yang lebih kompleks, bahkan paradoksal.

Dalam praktik sehari-hari, tengkulak memang sering memanfaatkan posisi sebagai perantara antara petani dan pasar. Pada saat panen raya, ketika produksi melimpah dan petani membutuhkan uang tunai segera, tengkulak hadir sebagai pembeli yang siap menampung hasil panen.

Masalahnya, posisi tawar petani yang lemah membuat harga kerap ditekan. Petani tidak memiliki banyak pilihan karena keterbatasan akses pasar, informasi harga, maupun fasilitas penyimpanan. Di titik ini, tengkulak bisa menjadi aktor yang mengambil margin besar, tanpa memberikan imbalan yang sepadan bagi petani.

Hanya saja, realitas di lapangan menunjukkan sisi lain yang tidak kalah penting. Bagi banyak petani, terutama di wilayah yang jauh dari pusat distribusi, tengkulak justru menjadi “dewa penolong”. Mereka menyediakan likuiditas cepat yang tidak mampu diberikan oleh sistem formal.

Ketika petani membutuhkan dana untuk kebutuhan mendesak, mulai dari biaya produksi, hingga kebutuhan rumah tangga, tengkulak hadir tanpa prosedur berbelit.

Transaksi bisa terjadi dalam hitungan jam, sesuatu yang sulit ditemukan dalam skema bantuan atau perbankan yang seringkali tersendat oleh birokrasi.

Di sinilah dilema itu muncul. Tengkulak bisa menjadi sumber masalah, sekaligus solusi. Mereka bisa menekan harga, tetapi juga mempercepat arus barang. Mereka memberi pinjaman berbunga tinggi, tetapi juga menjadi satu-satunya pintu akses pembiayaan bagi petani kecil.

Tengkulak mengambil keuntungan, tetapi juga menjaga agar hasil panen tidak terbuang sia-sia karena tidak terserap pasar. Dalam ekosistem yang belum sepenuhnya ideal, maka peran tengkulak menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan petani.

Justru karena itulah, pendekatan yang hanya memusuhi tengkulak sering kali tidak menyelesaikan persoalan. Hal yang dibutuhkan bukan sekadar menghilangkan peran mereka, melainkan mentransformasikannya.


Mitra strategis

Tengkulak yang selama ini identik dengan praktik eksploitatif, sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi mitra strategis jika diarahkan dengan benar.

Ada lima prinsip sederhana yang bisa menjadi pijakan. Pertama, harga yang adil, di mana pembelian tidak lagi menekan petani. Kedua, sistem pembayaran yang cepat dan pasti, sehingga kebutuhan likuiditas petani tetap terpenuhi.

Ketiga, bimbingan dan pendampingan agar kualitas hasil panen meningkat. Keempat, pemanfaatan jaringan pemasaran yang luas untuk membuka akses pasar yang lebih baik.

Kelima, pembangunan kerja sama jangka panjang yang berbasis kepercayaan, bukan sekadar transaksi sesaat.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.