Jakarta (ANTARA) — Industri manufaktur Indonesia saat ini berada pada fase penting dalam proses transformasi menuju sistem produksi berbasis teknologi dan nilai tambah, seiring dengan implementasi program nasional Making Indonesia 4.0. Transformasi tersebut dinilai menjadi kunci untuk memperkuat daya saing sektor manufaktur sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Vice President Epicor Asia, Vincent Tang, mengatakan sektor manufaktur masih menjadi salah satu motor utama perekonomian Indonesia dan berperan strategis dalam ambisi negara menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada 2030.

Menurut Vincent, industri manufaktur Indonesia kini sedang berada pada titik infleksi yang penting, yaitu beralih dari model manufaktur berbasis biaya menuju manufaktur pintar yang berorientasi pada nilai tambah.

Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga tren utama yang diperkirakan akan membentuk masa depan industri manufaktur, yakni pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengambilan keputusan, adopsi teknologi cloud untuk meningkatkan fleksibilitas operasional, serta pemanfaatan data untuk memperkuat ketahanan bisnis.

“AI, cloud, dan data bukan lagi konsep masa depan, tetapi sudah menjadi fondasi dalam operasional manufaktur modern,” ujar Vincent.

Meski demikian, transformasi digital di sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah kondisi data perusahaan yang masih terfragmentasi dan belum terintegrasi secara optimal.

Vincent menjelaskan bahwa banyak perusahaan manufaktur memiliki data dalam jumlah besar, tetapi data tersebut tersebar di berbagai sistem sehingga sulit dimanfaatkan secara efektif untuk mendukung pengambilan keputusan.

Selain persoalan data, perusahaan juga dihadapkan pada tantangan dalam menyelaraskan aspek manusia, proses bisnis, dan teknologi agar transformasi digital dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan.

Berdasarkan riset Epicor, perusahaan yang berhasil memimpin transformasi digital adalah perusahaan yang tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi juga membangun fondasi digital yang kuat serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memanfaatkannya.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Vincent menekankan pentingnya membangun fondasi digital yang terintegrasi dengan menggabungkan data, AI, dan cloud dalam satu platform.

Ia menyarankan perusahaan untuk memulai transformasi dari langkah-langkah kecil yang memiliki dampak langsung terhadap operasional, seperti penerapan predictive maintenance, penjadwalan produksi yang lebih cerdas, serta otomatisasi proses pengadaan.

“Pendekatannya bukan langsung besar, tetapi dimulai dari use case yang memberikan dampak nyata, lalu dikembangkan secara bertahap,” ujarnya.

Dalam proses implementasi transformasi digital, dua faktor yang paling menentukan adalah kesiapan data dan kesiapan sumber daya manusia. Vincent menilai banyak perusahaan masih meremehkan pentingnya kualitas data, padahal efektivitas teknologi seperti AI sangat bergantung pada data yang digunakan.
“AI hanya akan sebaik data yang digunakan. Karena itu, data harus terhubung, bersih, dan mudah diakses,” katanya.

Di sisi lain, kesiapan tenaga kerja juga menjadi faktor penting. Tanpa pelatihan dan dukungan yang memadai, adopsi teknologi berpotensi tidak berjalan optimal meskipun perusahaan telah memiliki sistem yang canggih.

Vincent menilai bahwa ke depan faktor pembeda antara perusahaan manufaktur yang unggul dan yang tertinggal adalah kemampuan perusahaan dalam mengubah data menjadi insight yang dapat langsung ditindaklanjuti.

Menurutnya, perusahaan yang mampu mengolah data menjadi keputusan bisnis secara real-time akan memiliki keunggulan kompetitif di tengah dinamika industri yang semakin cepat.

Selain itu, perkembangan teknologi juga akan mendorong perubahan besar pada sistem enterprise resource planning (ERP) dalam beberapa tahun ke depan.
Vincent menjelaskan bahwa perusahaan kini mulai beralih dari sistem ERP yang kaku menuju platform yang lebih fleksibel dan modular.

Ia memperkirakan dalam lima tahun mendatang ERP akan berkembang menjadi platform yang lebih adaptif dan cerdas, mampu memberikan prediksi, rekomendasi, hingga tindakan secara real-time.

ERP modern juga akan semakin terintegrasi dengan teknologi AI, cloud, serta berbagai sistem otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung keberlanjutan bisnis.

Dengan berbagai tantangan dan peluang tersebut, transformasi digital dinilai menjadi langkah yang tidak terelakkan bagi industri manufaktur Indonesia. Perusahaan yang mampu membangun fondasi digital yang kuat dan memanfaatkan teknologi secara optimal diperkirakan akan lebih siap menghadapi persaingan global di masa depan.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.