Usaha yang dirintis Ny. Ely Dewa menjadi contoh bagaimana kegiatan ekonomi skala kecil mampu mendorong masyarakat menjadi lebih produktif sekaligus menuju kemandirian finansial.
Bengkulu (ANTARA) - Di tengah perkembangan industri kreatif berbasis budaya lokal, para pelaku usaha mikro mulai melirik potensi daerah sebagai sumber peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Industri kreatif yang berpijak pada budaya lokal tidak hanya menghasilkan produk bernilai jual, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih besar bagi masyarakat dalam proses kreatif maupun ekonomi.
Salah satu sektor yang menunjukkan perkembangan signifikan adalah kerajinan batik. Usaha kreatif ini kini tidak lagi terpusat di wilayah tertentu, melainkan tumbuh di berbagai daerah dengan ciri khas dan identitas masing-masing.
Di Provinsi Bengkulu, batik menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas daerah melalui pengembangan motif khas lokal. Kabupaten Rejang Lebong menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi tersebut melalui batik berbasis Aksara Kaganga yang sarat nilai sejarah.
Kaganga merupakan aksara tradisional Suku Rejang yang hingga kini masih digunakan oleh masyarakat di sejumlah kabupaten di Provinsi Bengkulu, dengan salah satu basis masyarakat Suku Rejang berada di Kabupaten Rejang Lebong.

Keberadaan Aksara Kaganga tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi pada masa lalu, tetapi kini juga menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga oleh masyarakat daerah.
Dalam catatan sejarah, Kaganga dikenal sebagai salah satu aksara tertua yang digunakan masyarakat di wilayah Sumatera bagian selatan. Meski perkembangan teknologi dan informasi berlangsung pesat, penggunaan aksara ini masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan tetua adat.
Di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Lebong, dan Kepahiang, aksara ini masih dikenali dan digunakan dalam berbagai konteks budaya.
Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Rejang Lebong mencatat bahwa di Sumatera bagian selatan terdapat sejumlah aksara lokal yang berkembang di kalangan suku pribumi. Aksara tersebut digunakan oleh suku Rejang, Serawai, Lembak, dan Pasemah dalam berbagai bentuk penulisan tradisional.
Sejumlah penelitian sejak masa kolonial Belanda hingga pascakemerdekaan juga telah mendokumentasikan keberadaan aksara tersebut.
Peneliti seperti William Marsden lewat karyanya History of Sumatra (1785) mencatat penggunaan aksara oleh masyarakat setempat. Kajian serupa kemudian dilakukan Van Hasselt dalam Midden Sumatra (1881), serta M.A. Jaspan melalui Folk Literature Southwest Sumatra (1964), yang mengubah penyebutan aksara masyarakat kuno setempat dari istilah aksara Ulu menjadi aksara Ka-Ga-Nga.
Nama Kaganga sendiri diambil dari tiga huruf awal dalam susunan aksara tersebut, yang kemudian disepakati dalam pertemuan para pemuka adat di Bengkulu.
Baca juga: Kemenkum Bengkulu dampingi pembentukan MPIG Batik Kaganga
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.