... penggantian kompor LPG dengan kompor listrik dapat menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memberi ruang napas bagi APBN. Selain itu, kebijakan ini juga dapat mengurangi kerentanan terhadap dinamika geopolitik....
Jakarta (ANTARA) - Penting bagi pemerintah untuk memastikan makanan tetap terhidang di piring rakyat, terlebih di tengah memanasnya perang antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran.
Perang tersebut menjadi bukti nyata posisi Timur Tengah (atau Asia Barat) sebagai penjaga denyut energi dunia. Tak sampai satu bulan sejak Iran menutup Selat Hormuz, negara-negara yang berjarak ribuan kilometer pun meraung dan mengumumkan darurat energi.
Satu per satu negara mulai terdampak. Filipina, pada Selasa (24/3), menjadi negara pertama yang resmi menetapkan keadaan darurat nasional akibat terganggunya rantai pasok energi global menyusul konflik di kawasan Timur Tengah.
Krisis energi kemudian merembet ke negara lain, termasuk Australia, yang mulai mengalami kekosongan stok bahan bakar minyak (BBM) di ratusan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Video masyarakat yang berbondong-bondong berjalan kaki pun viral di berbagai media sosial.
Namun, krisis BBM bukan satu-satunya ancaman. Bahaya lain yang mengintai adalah kelangkaan LPG, krisis yang belum banyak menjadi perbincangan publik, tetapi sangat penting untuk memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi.
India adalah salah satu negara yang kini mengalami kelangkaan LPG imbas dari penutupan Selat Hormuz. Restoran, kafe, hingga hotel mulai membatasi operasionalnya untuk menjaga napas LPG tetap berembus.
Sejumlah kanal berita resmi di India melaporkan pemerintah setempat menyetujui pendistribusian minyak tanah sebagai alternatif agar masyarakat tetap dapat memasak. Warga yang sebelumnya terbiasa menggunakan kompor gas kini kembali beralih ke minyak tanah.
Lantas bagaimana dengan Indonesia, yang lebih dari 75 persen dari total kebutuhan LPG-nya bergantung kepada impor?
Baca juga: Wakil Ketua MPR: Krisis energi jadi momentum benahi subsidi BBM-LPG
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.