Jakarta (ANTARA) - Pelatih tim nasional Italia Gennaro Gattuso mengaku sangat terpukul setelah gagal mengantarkan Italia ke Piala Dunia 2026.

Dalam play-off Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa yang berlangsung di Stadion Billino Polje, Zenica, Rabu dini hari WIB, Italia harus mengakui ketangguhan Bosnia-Herzegovina lewat adu penalti 1-4 setelah bermain imbang 1-1 pada 120 menit jalannya pertandingan.

"Ini terasa sakit (setelah gagal lolos), tapi saya bangga pada pemain saya. Mereka tidak layak mendapatkan pukulan seperti ini karena perjuangan yang mereka lakukan di lapangan," kata Gattuso dikutip dari laman FIGC, Rabu.

Gli Azzurri menorehkan catatan negatif dengan tiga kali berturut-turut gagal lolos ke ajang sepak bola paling bergengsi antarnegara sedunia tersebut.

Terakhir, Italia merasakan panggung Piala Dunia adalah pada Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil.

Gattuso mengaku bahwa kegagalan ini tidak dapat diterima oleh semua pihak terlebih Italia merupakan salah satu negara sepak bola terbesar di dunia dengan menyandang status sebagai empat kali jawara dunia.

Baca juga: Disingkirkan Bosnia-Herzegovina, Italia kembali gagal ke Piala Dunia

Secara pribadi, legenda hidup AC Milan tersebut meminta maaf kepada publik Italia karena gagal menggapai target yaitu satu tiket lolos ke Piala Dunia 2026.

"Ini adalah kemunduran besar; saya rasa tidak adil bagi kami untuk pergi keluar hari ini. Secara pribadi, saya minta maaf karena saya tidak berhasil menyelesaikannya," ujar Gattuso.

Ditanya tentang masa depannya, Gattuso mengaku bahwa saat ini tidak ingin memikirkan kondisinya di kursi kepelatihan Italia terlepas dengan hasil buruk yang diperolehnya.

"Berbicara tentang masa depan saya hari ini tidak penting. Yang penting adalah mencapai Piala Dunia, dan kami menyesal," ungkap Gattuso.

Baca juga: FIFA pastikan Iran tetap tampil di Piala Dunia 2026

Baca juga: Tuan rumah AS dua kali kalah beruntun jelang Piala Dunia 2026

Pewarta: Fajar Satriyo
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.