“Ini bukan sekadar kehilangan bagi TNI, tetapi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Mereka gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia,”
Jakarta (ANTARA) - Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat menilai gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon Selatan sebagai kehilangan besar bagi bangsa, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian.
Tiga prajurit tersebut yakni Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya, dan Sertu Ikhwan yang gugur dalam dua insiden pada 29–30 Maret akibat ledakan dan serangan proyektil di tengah eskalasi keamanan di wilayah tersebut.
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu menegaskan peristiwa itu bukan sekadar kehilangan institusi, melainkan duka nasional atas gugurnya prajurit dalam misi kemanusiaan.
“Ini bukan sekadar kehilangan bagi TNI, tetapi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Mereka gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia,” tegas AHY, yang pernah tergabung dalam Kontingen Garuda pertama di UNIFIL tahun 2006.
Dengan pengalaman tersebut, AHY pun memahami langsung risiko dan kehormatan dalam misi perdamaian dunia.
Di sisi lain, sejumlah kader Partai Demokrat juga memiliki pengalaman dalam misi perdamaian PBB. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono bahkan pernah menjabat sebagai Chief of Military Observer di Bosnia pada 1995.
AHY menyatakan Partai Demokrat mengutuk keras setiap serangan terhadap personel UNIFIL. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apa pun.
Sementara Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menegaskan pihaknya mengecam tindakan Israel sebagai pelaku serangan.
“Demokrat mengecam keras Israel selaku pelaku serangan," ujarnya.
Selain menyampaikan duka cita, Demokrat mendorong langkah konkret untuk memastikan akuntabilitas atas insiden tersebut melalui investigasi menyeluruh oleh PBB bersama UNIFIL.
Partai Demokrat menilai investigasi yang transparan penting untuk mengungkap sumber serangan secara jelas serta menjadi dasar evaluasi dalam perlindungan pasukan perdamaian di masa mendatang.
Di sisi lain, Demokrat menekankan perlunya penguatan prosedur operasional standar (SOP) serta langkah kontinjensi adaptif guna menjamin keselamatan prajurit Indonesia yang bertugas di wilayah konflik.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya negara menjaga keselamatan personel sekaligus memastikan kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian dunia tetap berjalan secara optimal dan bertanggung jawab.
Baca juga: Uni Eropa kutuk serangan ke pasukan PBB di Lebanon
Baca juga: Lacroix: Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh jadi sasaran
Baca juga: RI tuntut PBB selidiki serangan Israel terhadap prajurit TNI di UNIFIL
Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.