Penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 terutama dipicu oleh pelemahan permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global,
Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai ke depan kinerja industri manufaktur Indonesia masih bertahan di zona ekspansi meski menghadapi tekanan secara global, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Maret 2026 yang tetap ekspansi.
Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin dalam keterangan di Jakarta, Rabu mengatakan, meski ekspansi, PMI pada bulan Maret mengalami penurunan secara bulanan, terutama dipengaruhi oleh melemahnya permintaan, khususnya dari pasar ekspor.
"Penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 terutama dipicu oleh pelemahan permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global," katanya.
Selain itu, tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok turut menekan aktivitas industri.
Baca juga: Kinerja industri manufaktur tetap tangguh, tercermin dari capaian PMI
Katanya, kombinasi demand shock dan cost pressure ini membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati batas stagnasi di level 50.
Berdasarkan data S&P Global, PMI manufaktur Indonesia tercatat turun ke level 50,1 pada Maret 2026 dari sebelumnya 53,8. Meski menurun, posisi tersebut masih menunjukkan sektor manufaktur berada di zona ekspansi, walaupun sangat tipis.
Saleh menilai, ke depan kinerja PMI masih berpeluang bertahan di zona ekspansi, namun dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap tekanan eksternal.
"Ke depan, Kami selaku WKU Kadin bidang Industri cenderung melihat PMI masih berpotensi bertahan di zona ekspansi tipis, namun sangat rentan terhadap tekanan eksternal," katanya.
Baca juga: Industri Manufaktur Indonesia Hadapi Titik penting dalam transformasi digital
Pelemahan pesanan ekspor menurut dia, akan berdampak langsung pada sektor padat karya melalui penurunan utilisasi kapasitas, tekanan margin, dan potensi penyesuaian tenaga kerja.
"Maka dari itu arah dari PMI akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri," ucapnya.
Menurutnya, tanpa adanya pemulihan permintaan eksternal dan stabilisasi faktor biaya, sektor manufaktur nasional akan menghadapi tantangan berat untuk menjaga momentum ekspansi di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Baca juga: S&P catat PMI manufaktur RI Februari tembus 53,8, tertinggi dua tahun
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.