Warga Tionghoa jalani ritual Ceng Beng

Warga Tionghoa jalani ritual Ceng Beng

Ritual Ceng Beng Sejumlah warga Tionghoa membakar kertas di depan makam leluhurnya sebagai ritual Hari Raya Ceng Beng, di Sentong, Batu, Jawa Timur, Sabtu (30/3). Perayaan Ceng Beng sebagai penghormatan terhadap leluhur tersebut berlangsung selama 15 hari pada akhir bulan Maret hingga awal bulan April setiap tahunnya. (FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto) ()

Jakarta (ANTARA News) - Ratusan warga Tionghoa mulai menjalani ritual ceng beng (ziarah kubur) ke pemakaman Tanah Cepe, Tangerang, Banten, untuk mendoakan arwah leluhur yang menjadi tradisi setiap tahun.

Wartawan ANTARA di Tangerang, Minggu, melaporkan sejak pagi hingga siang hari warga Tionghoa tak henti-hentinya datang dan pergi di pemakaman Tanah Cepe untuk Ceng Beng.

Meskipun kemacetan belum terlalu terjadi karena memang belum merupakan hari puncak Ceng Beng yang jatuh setiap 5 April, namun banyak warga Tionghoa yang memilih ziaran datang lebih awal.

"Kalau kami ziaran mendekati puncak Ceng beng atau 5 April, kemacetan parah akan menghadang. Jadi lebih baik datang pada awal saja," kata Liliyana, salah seorang warga Tionghoa yang ziarah ke makam ayahnya.

Sesuai ketentuan walaupun puncak Ceng beng jatuh pada 5 April, namun 10-15 hari sebelum tanggal tersebut sudah bisa dimulai ziarah kubur.

Menurutnya, tradisi ceng beng sudah merupakan kegiatan setiap tahun dan dia bersama keluarganya selalu berkumpul di kuburan untuk berdoa serta memberikan sesaji makanan, membakar uang-uangan kertas, baju kertas, serta membakar hio.

"Makanan dan buah-buahan yang kami sajikan adalah yang disuka oleh leluhur dan kami percaya bahwa arwahnya akan menyantap sesaji yang kami suguhkan sembari berdoa untuk kebaikan di surga," katanya.

Omen, salah seorang penjaga kuburan Tanah Cepe, mengatakan mulai hari ini memang terjadi peningkatan jumlah peziarah ke lokasi pemakaman warga Tionghoa terbesar di Tangerang tersebut.

Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, jumlah peziarah yang datang akan terus meningkat hingga pada puncaknya 5 April.

"Bukan pada Sabtu dan Minggu saja peziarah berdatangan, pada hari kerja pun banyak peziarah yang datang sehingga setiap hari selalu padat dan macet," katanya.

Dia mengakui, menjelang hingga puncak Ceng Beng penjaga kuburan, tukang rumput, hingga tukang parkir liar ketiban banyak rejeki yang didapat dari peziarah.

"Sehari bahkan bisa dapat Rp200 ribu hingga Rp400 ribu dari peziarah, tergantung berapa besar mereka memberi," katanya.

Ceng beng yang dalam bahasa diartikan sebagai cerah dan cemerlang merupakan tradisi ziarah tahunan bagi warga tionghoa bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia merayakan perayaan.

Pada intinya, kegiatan ceng beng dilakukan untuk menghormati leluhur yang telah meninggal. Kegiatan penghormatan leluhur ini dilakukan oleh warga tionghoa dengan cara membakar uang-uangan kertas, membakar dupa, membersihkan kuburan atau perabuan, memasak makanan yang biasanya dihubungkan dengan makanan kesukaan si leluhur dan meletakkannya di kuburan atau perabuan.

Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Warga Tionghoa Pekalongan doakan arwah berbagai agama

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar