Indonesia memiliki modal sosial dan ekologis yang kuat dalam bentuk sistem agroforestri tradisional

Jakarta (ANTARA) - Diskursus mengenai tanaman komoditas unggulan nasional dalam konteks perubahan iklim kerap terjebak pada simplifikasi sumber masalah atau bagian dari solusi.

Dalam kenyataannya, lanskap perkebunan Indonesia jauh lebih kompleks. Ekosistem yang tercipta bukan hanya ruang produksi komoditas, melainkan juga ruang ekologis yang menyimpan karbon dalam jumlah signifikan, terutama pada sistem kebun rakyat berbasis agroforestri.

Ironisnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diakui sebagai aset strategis. Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap jejak karbon produk pertanian, justru komoditas seperti kopi, kakao, kelapa, aren, serta tanaman rempah berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi rendah karbon Indonesia.

Persoalannya bukan lagi pada ketersediaan potensi, melainkan pada kemampuan kita mengelolanya secara sistematis dan bermanfaat.

Secara ilmiah, kapasitas suatu lanskap dalam menyimpan karbon ditentukan oleh dua komponen utama, yaitu biomassa di atas permukaan (pohon, tajuk, akar) dan karbon organik tanah. Dalam konteks ini, sistem agroforestri yang mendominasi sebagian besar kebun rakyat Indonesia memiliki keunggulan.

Pada kopi, misalnya, sistem agroforestri mampu menyimpan sekitar 18–21 ton karbon per hektare pada biomassa atas permukaan. Sebagai perbandingan, sistem kopi tanpa naungan hanya menyimpan sekitar 10 ton karbon per hektare. Selain itu, agroforestri kopi memiliki laju penyerapan karbon sekitar 0,9 ton karbon per hektare per tahun.

Variasi ini tidak semata ditentukan oleh jenis tanaman, melainkan oleh struktur kebun. Di wilayah seperti Gayo, Aceh, kebun kopi dengan pohon pelindung berukuran besar dapat memiliki cadangan karbon yang mendekati hutan sekunder. Sebaliknya, kebun yang terlalu disederhanakan tanpa pohon naungan, kehilangan sebagian besar fungsi ekologisnya.

Fenomena serupa terlihat pada kakao. Sistem kakao agroforestri mampu menyimpan sekitar 90 ton karbon per hektare, dengan lebih dari separuhnya tersimpan dalam tanah. Bahkan pada sistem yang lebih kompleks, cadangan karbon dapat melampaui 100 ton per hektare. Hal ini menunjukkan bahwa tanah memainkan peran sentral dalam neraca karbon kebun.

Kelapa dan aren memperlihatkan karakteristik yang berbeda, tetapi tidak kalah penting. Kelapa, dengan umur panjang dan biomassa besar, berfungsi sebagai penyimpan karbon jangka panjang, terutama dalam sistem kebun campuran. Sementara itu, aren yang umumnya tumbuh dalam ekosistem hutan sekunder, memiliki kontribusi signifikan dalam menjaga cadangan karbon sekaligus stabilitas hidrologi.

Tanaman rempah seperti pala dan cengkeh menambah dimensi lain. Di Maluku dan Sulawesi, kebun rempah tradisional sering membentuk struktur vegetasi bertingkat yang menyerupai hutan. Sistem ini tidak hanya menyimpan karbon dalam jumlah besar, tetapi juga mempertahankan keanekaragaman hayati.

Dengan demikian, lanskap perkebunan Indonesia, khususnya yang berbasis agroforestri, sesungguhnya merupakan mosaik ekosistem penyimpan karbon. Masalahnya, fungsi ini belum terintegrasi dalam perhitungan ekonomi secara memadai.

Potensi ekologis ke instrumen ekonomi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.