Jakarta (ANTARA) - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman meminta pemerintah China membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk UMKM Indonesia sekaligus memperkuat integrasi UMKM Indonesia ke dalam rantai pasok China.

“Kami bicara tentang potensi market yang ada di China untuk bisa dibuka seluas-luasnya kepada pengusaha mikro, kecil dan menengah kita,” kata Maman ditemui di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta, Senin.

Menteri UMKM sebelumnya melakukan kunjungan kerja ke China pekan lalu untuk mengikuti acara "Indonesia–China SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026" pada Rabu (1/4) yang mempertemukan para pelaku usaha asal China dan para pembuat kebijakan dari Indonesia terkait dunia usaha dan UMKM.

Menurut Maman, sejumlah komoditas unggulan Indonesia memiliki peluang besar di pasar China, mulai dari durian, manggis, buah naga, hingga sarang burung walet.

Baca juga: Sumbar belum izinkan ritel luar beroperasi untuk lindungi UMKM lokal

Maman menyampaikan kebutuhan durian di China sangat tinggi, sementara pasokan terbesar masih berasal dari Thailand dan Vietnam.

Ia menilai posisi Indonesia masih sangat kecil dalam pasar tersebut, sehingga pemerintah mendorong agar para petani durian di dalam negeri dapat lebih optimal memanfaatkan peluang ekspor.

Selain durian, Maman juga menyoroti pentingnya perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM yang bergerak di komoditas sarang burung walet.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini telah memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan pasar China, namun akses bagi UMKM masih terbatas sehingga perlu diperluas agar manfaat komoditas strategis tersebut dapat dirasakan lebih merata terutama oleh pengusaha kecil dan menengah di dalam negeri.

“Kami membicarakan bagaimana membuka akses yang lebih besar lagi bagi sarang burung walet kita, terutama bagi pengusaha kecil menengah,” tuturnya.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.