Kita terlalu bangga dengan itu. Akhirnya kita terjebak dalam keunggulan komparatif, bukan menuju kepada keunggulan kompetitif,

Jakarta (ANTARA) - Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menilai ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dapat menjadi motor pertumbuhan industri nasional, namun Indonesia perlu memperkuat riset dan rantai pasok agar tidak berhenti pada keunggulan bahan baku.

Ketua Umum Periklindo Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko mengatakan, pengembangan EV harus diarahkan untuk mendorong daya saing industri nasional, bukan sekadar memanfaatkan kekayaan sumber daya alam.

“Kita terlalu bangga dengan itu. Akhirnya kita terjebak dalam keunggulan komparatif, bukan menuju kepada keunggulan kompetitif,” kata Moeldoko dalam Tutur Economic Dialogue Trend 2026 di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya mineral untuk mendukung industri baterai, seperti nikel, mangan, kobalt, dan tembaga.

Namun, menurut dia, keunggulan bahan baku tersebut belum cukup apabila tidak diikuti penguatan riset dan penguasaan teknologi.

Baca juga: BRIN dorong standardisasi steker dan soket untuk kendaraan listrik

Moeldoko menuturkan, tantangan utama Indonesia saat ini terletak pada kemampuan riset, terutama di tengah perkembangan teknologi baterai yang bergerak cepat, mulai dari lithium iron phosphate hingga solid-state battery.

Ia menilai penguatan riset menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam pengembangan industri kendaraan listrik.

“Kalau riset kita lemah bagaimana kita bisa mengejar?” ujar Moeldoko.

Selain riset, ia juga menilai rantai pasok domestik masih perlu dikembangkan.

Menurut dia, industri di dalam negeri saat ini masih banyak bergerak pada produksi katoda dan anoda, sementara pengolahan lanjutan menjadi sel baterai masih dilakukan di luar negeri sebelum kembali diimpor ke Indonesia untuk tahap perakitan.

Baca juga: Indef: Insentif EV untuk redam risiko fiskal lonjakan harga minyak

Menurut Moeldoko, Indonesia perlu mendorong peningkatan daya saing industri dan hilirisasi agar tidak hanya mengandalkan keunggulan sumber daya alam.

“Mari kita berpikir keras kalau kita ingin menuju kepada keunggulan kompetitif, bukan komparatif. Kalau melihat kita punya bahan baku, kita juga harus punya ahli-ahli di sektor riset.” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia juga masih menghadapi tantangan pada pengembangan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), yang teknologinya terus berkembang.

Meski demikian, Moeldoko menilai Indonesia masih memiliki ruang produksi yang besar karena kapasitas industri otomotif domestik telah mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta unit per tahun.

Baca juga: Pengamat nilai EV pilihan tepat untuk bangun kemandirian energi

Menurut dia, peluang tersebut harus dimanfaatkan dengan mempercepat pembangunan ekosistem EV secara utuh, mulai dari riset, produksi baterai, infrastruktur pengisian daya, hingga pengelolaan baterai bekas melalui skema penggunaan ulang dan daur ulang.

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto juga menilai transisi kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, penetrasi mobil listrik kini telah mencapai sekitar 13–14 persen, sedangkan kendaraan hibrida (hybrid) sekitar 8 persen, sehingga total pangsa keduanya telah melampaui 20 persen.

“Mobil listrik itu adalah masa depan dan kita harus masuk di dalamnya,” ujar Fransiscus.

Baca juga: Dirut PLN IP: Kolaborasi jadi kunci transisi energi di Asia Tenggara

Ia juga mengatakan, dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi harga bahan bakar fosil mulai mendorong peningkatan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.