Dengan pendekatan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis kondisi daerah, pengelolaan sampah di Indonesia diharapkan tidak hanya mampu mengatasi persoalan lingkungan, tapi juga menjadi pilar penting dalam transisi menuju energi bersih.

Purwokerto (ANTARA) - Persoalan sampah di Indonesia tidak lagi dapat dipandang sebagai isu lingkungan semata. Dalam beberapa tahun terakhir, timbunan sampah yang mencapai sekitar 35 juta ton per tahun mulai dilihat sebagai potensi sumber energi alternatif yang dapat berkontribusi pada ketahanan energi nasional sekaligus pengurangan emisi karbon.

Di tengah kebutuhan tersebut, muncul dua pendekatan yang berkembang secara paralel. Di tingkat nasional, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dalam skala besar.

Sementara di tingkat daerah, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan model pengelolaan berbasis masyarakat dengan pemanfaatan energi alternatif seperti refuse-derived fuel (RDF).

Kedua pendekatan ini mengemuka dalam forum ISEI Industry Matching dan diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk "Proyek Waste to Energy terhadap Ketahanan Energi Nasional" yang digelar di Gedung Utama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (7/4).

Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Muliaman Darmansyah Hadad yang hadir sebagai pembicara kunci menegaskan bahwa persoalan sampah di Indonesia memiliki kompleksitas tersendiri dibandingkan negara maju.

Ia mencontohkan negara-negara Eropa yang telah menerapkan sistem pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Di sana, masyarakat terbiasa memisahkan jenis sampah sehingga memudahkan proses pengolahan di tahap akhir.

Sebaliknya, di Indonesia, sampah umumnya masih tercampur. Kondisi ini membuat proses pengolahan di hilir menjadi lebih kompleks dan mahal karena membutuhkan teknologi pemisahan otomatis.

"Kalau tidak dipilah dari awal, maka di ujung harus menggunakan teknologi yang lebih mahal. Ini yang membuat efisiensinya menjadi rendah," kata Muliaman.

Ia juga menyoroti persoalan nilai kalor sampah. Material bernilai tinggi seperti plastik kerap telah diambil oleh sektor informal sebelum mencapai fasilitas pengolahan. Akibatnya, sampah yang tersisa cenderung basah dan memiliki nilai energi rendah.

Kondisi tersebut berdampak pada efektivitas pembangkit listrik berbasis sampah. Untuk menghasilkan energi yang optimal, sampah dengan kadar air tinggi harus melalui proses tambahan seperti pengeringan, yang meningkatkan biaya operasional.

Dalam konteks ini, Muliaman menekankan bahwa pembenahan dari hulu menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan waste to energy (WtE) atau energi berbasis sampah.

Sebagai bagian dari solusi, Danantara mendorong pembangunan platform investasi WtE yang melibatkan berbagai pihak. Dalam skema ini, Danantara berperan sebagai anchor investor yang membuka jalan bagi masuknya investor lain, termasuk dari luar negeri yang memiliki teknologi pengolahan sampah.

Baca juga: Energi berbasis sampah dinilai dukung target nol emisi di Indonesia

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.