Tingkat pemanfaatannya yang meningkat tajam. Ini menandakan layanan yang diberikan semakin tepat sasaran dan dibutuhkan oleh masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) berharap Program Masjid Ramah Pemudik dapat terus ditingkatkan dan menjadi model pelayanan berkelanjutan berbasis rumah ibadah di tengah masyarakat.

“Kami berharap tren positif ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Program Masjid Ramah Pemudik diharapkan tidak hanya hadir saat musim mudik, tetapi menjadi model pelayanan berkelanjutan berbasis rumah ibadah di tengah masyarakat,” ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat di Jakarta, Selasa.

Harapan tersebut disampaikan Arsad mengingat program tahunan tersebut mendapat respon positif dari masyarakat, khususnya para pemudik. Pemudik memiliki opsi yang lebih banyak untuk beristirahat ketika dalam perjalanan.

Kementerian Agama mencatat jumlah pemudik yang singgah di masjid mencapai 3.592.348 orang, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 1.617.641 orang.

Jumlah ini belum termasuk pemudik yang memanfaatkan vihara, gereja, dan rumah ibadah berbagai agama yang juga ikut memberikan layanan ramah pemudik pada libur Lebaran.

Baca juga: Kemenag: 3,5 juta orang manfaatkan layanan Masjid Ramah Pemudik

"Ini menunjukkan bahwa masjid semakin dipercaya sebagai tempat singgah yang aman, nyaman, dan terbuka bagi para pemudik,” ujar Arsad.

Menurut Arsad, Kementerian Agama menyiapkan 6.859 masjid yang tersebar di berbagai wilayah strategis, terutama di jalur utama seperti Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatera, pada Lebaran 2026.

Seluruh masjid tersebut beroperasi selama 24 jam sejak H-9 hingga H+7 Idul Fitri. Sementara pada 2025 program ini melibatkan 8.710 masjid dengan jumlah pengunjung sekitar 1,6 juta orang.

“Tingkat pemanfaatannya yang meningkat tajam. Ini menandakan layanan yang diberikan semakin tepat sasaran dan dibutuhkan oleh masyarakat,” kata dia.

Arsad menuturkan mayoritas pemudik yang memanfaatkan layanan masjid berasal dari pengguna kendaraan pribadi, terutama sepeda motor dan mobil. Hal ini sejalan dengan karakter arus mudik di Indonesia yang didominasi perjalanan darat jarak jauh.

Baca juga: Wamenag minta masjid dukung kelancaran arus balik Lebaran 2026

Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti tempat istirahat, air minum, toilet bersih, hingga layanan pengisian daya gawai. Kehadiran fasilitas ini dinilai membantu pemudik menjaga kondisi fisik selama perjalanan.

Ia juga mengungkapkan tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diberikan. Berdasarkan evaluasi, hampir seluruh responden menyatakan fasilitas utama seperti tempat shalat, kebersihan, dan keamanan sudah terpenuhi dengan baik.

“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan umat. Di sinilah nilai kemanusiaan, kepedulian, dan kebersamaan hadir secara nyata,” kata Arsad.

Ia mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menyukseskan program ini, mulai dari pengurus masjid, penyuluh agama, KUA, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang optimal.

Baca juga: Kemenag: 6.859 masjid siap jadi tempat istirahat pemudik

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.