Jakarta (ANTARA) - Bantuan pangan dan program mudik gratis menjadi dua kebijakan pemerintah yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat selama mudik Lebaran 2026, mencerminkan kuatnya peran intervensi langsung dalam menopang mobilitas warga.
Peneliti lembaga survei Indikator Politik Indonesia Hendro Prasetyo menyebut kedua program tersebut menempati posisi teratas baik dari sisi tingkat pengenalan maupun manfaat yang dirasakan publik.
"Program yang paling banyak diketahui masyarakat adalah bantuan pangan, diikuti mudik gratis," ujarnya dalam rilis survei evaluasi publik penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 diikuti daring di Jakarta, Selasa.
Data survei menunjukkan bantuan pangan diketahui oleh 58,6 persen responden, diikuti mudik gratis 55,3 persen.
Sementara program lain seperti jaminan harga bahan bakar minyak (BBM) diketahui 48,8 persen, diskon tarif angkutan 38,1 persen, peningkatan tunjangan hari raya (THR) 34,5 persen, diskon tarif tol 34 persen serta kebijakan bekerja dari mana saja bagi aparatur sipil negara (ASN) 28,8 persen.
Dari sisi manfaat, mudik gratis menjadi program yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat. "Secara umum, program yang dianggap paling membantu adalah mudik gratis, diikuti bantuan pangan," kata Hendro.
Sebanyak 86,9 persen responden menilai mudik gratis cukup atau sangat membantu, disusul bantuan pangan 83,5 persen. Program diskon tarif angkutan dinilai membantu oleh 82,6 persen responden, sementara jaminan harga BBM mencapai 81,9 persen.
Program lain juga dinilai positif meski tidak setinggi dua program utama tersebut, seperti diskon tarif tol sebesar 79,1 persen, peningkatan THR 74,5 persen, dan kebijakan bekerja dari mana saja bagi ASN sebesar 63,4 persen.
Hendro menilai tingginya apresiasi terhadap bantuan langsung menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap dukungan konkret selama periode mudik yang sarat biaya.
"Masyarakat yang mengetahui program tersebut cenderung menilai lebih positif," ujarnya.
Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara tingkat pengetahuan dan pemanfaatan program, terutama pada kebijakan yang bersifat sektoral seperti fleksibilitas kerja ASN.
"PR (pekerjaan rumah) utama adalah rendahnya sosialisasi pada beberapa program," kata Hendro.
Survei dilakukan pada 29 Maret hingga 4 April 2026 terhadap 1.200 responden dengan metode multi-stage random sampling dan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Temuan itu menegaskan mudik sebagai momentum strategis yang tidak hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara luas.
Baca juga: Indikator: Kepuasan publik mudik Lebaran 2026 capai 80,8 persen
Baca juga: Indikator: Mudik dorong ekonomi daerah dengan pemudik berekreasi
Baca juga: Indikator: Kepuasan jalan mudik Lebaran 2026 di angka 74,4 persen
Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.