Jakarta (ANTARA) - Tingkat kesadaran (awareness) publik terhadap pelaksanaan mudik Lebaran 2026 tergolong tinggi, dengan generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi kelompok paling dominan dalam mengakses informasi dan program pemerintah.
Peneliti lembaga survei Indikator Politik Indonesia Hendro Prasetyo menyebut Gen Z memiliki tingkat pengetahuan paling luas dibanding kelompok usia lain.
“Gen Z secara umum paling banyak mengetahui berbagai program,” ujarnya dalam rilis survei evaluasi publik penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 diikuti daring di Jakarta, Selasa.
Survei menunjukkan tingkat pengetahuan Gen Z terhadap program pemerintah berada pada kisaran tertinggi, dengan mayoritas lebih dari 60 persen mengetahui berbagai kebijakan mudik, lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.
Secara umum, program paling populer adalah bantuan pangan berupa beras 10 kg dan 2 liter minyak goreng yang diketahui sekitar 59 persen responden, disusul mudik gratis 55 persen, serta jaminan harga BBM tidak naik sebesar 49 persen.
Sementara program lain seperti diskon tarif angkutan, peningkatan THR, diskon tarif tol, hingga kebijakan bekerja dari mana saja memiliki tingkat popularitas di bawah 40 persen.
Di sisi lain, kelompok usia lebih tua cenderung lebih mengenal program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar. “Program bantuan pangan ini lebih banyak diketahui kelompok usia lebih tua,” kata Hendro.
Secara geografis, tingkat awareness tertinggi berada di wilayah asal pemudik seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah–DIY, yang menjadi pusat mobilitas selama periode Lebaran.
Selain faktor usia dan wilayah, tingkat pendidikan dan pendapatan juga mempengaruhi akses informasi. “Semakin tinggi pendidikan dan pendapatan, semakin tinggi tingkat pengetahuan terhadap program-program tersebut,” ujarnya.
Survei juga menunjukkan keterkaitan antara akses informasi dan persepsi publik. Kelompok yang aktif menggunakan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp cenderung memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi terhadap penyelenggaraan mudik, masing-masing mencapai sekitar 88 persen dan 83 persen.
Sebaliknya, responden yang mengandalkan media konvensional seperti televisi dan koran cetak cenderung lebih kritis, dengan tingkat kepuasan sekitar 70 persen.
Menariknya, baik responden yang mengetahui maupun tidak mengetahui program pemerintah, mayoritas tetap memberikan penilaian positif. Lebih dari 60 persen responden menilai program-program tersebut cukup atau sangat membantu selama periode Lebaran.
“Masyarakat yang mengetahui program tersebut cenderung menilai lebih positif,” ujar Hendro.
Survei dilakukan pada 29 Maret hingga 4 April 2026 terhadap 1.200 responden dengan metode multi-stage random sampling dan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Temuan ini menegaskan mudik sebagai momentum strategis yang tidak hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara luas.
Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.