pelajaran yang bisa diambil dari dampak krisis Timur Tengah saat ini adalah secara bertahap mengakhiri kebergantungan yang terlalu besar pada pangan impor.

Impor dari luar kawasan Timur Tengah menjadi opsi pemerintah untuk menjaga pasokan energi setelah suplai global terganggu akibat ketegangan geopolitik.

Menurut data Kementerian ESDM, sekitar 20 persen kebutuhan BBM dalam negeri dipasok dari Arab Saudi melalui Selat Hormuz.

Pemerintah pun mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke negara lain, untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan, Indonesia mengimpor crude (minyak mentah) dari Timur Tengah dengan porsi 20–25 persen dari total impor, sementara sisanya berasal dari Angola, Amerika Serikat, dan Brasil. Adapun BBM jadi diimpor dari kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan, Indonesia lebih memilih mengimpor minyak dari negara-negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz, salah satunya dengan cara mendiversifikasi impor minyak mentah dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Selain upaya menjaga ketahanan energi, program strategis lain yang menjadi komitmen Indonesia adalah transisi energi Indonesia. Program transisi energi semakin relevan saat ini, terkait ketegangan geopolitik.

Dengan kekayaan sumber daya alam, ekonomi yang terus tumbuh, dan komitmen ambisius untuk menurunkan emisi karbon, Indonesia memposisikan diri sebagai calon pemimpin baru dalam perlombaan global menuju dekarbonisasi. Salah satu sumber energi terbarukan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan gas bumi.

Selaras dengan apa yang disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, di COP 29 (KTT Perubahan Iklim) di Baku, Azerbaijan, tahun lalu.

Dalam forum COP 29 Hashim Djojohadikusumo menyampaikan rencana Presiden Prabowo untuk meningkatkan pemanfaatan EBT, sebagai upaya memperlambat kenaikan suhu global. Adapun salah satu sumber energi baru yang akan dikembangkan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Hashim menambahkan, setidaknya sekitar 5 Giga Watt (GW) PLTN akan dibangun hingga 2040. Hal ini adalah bagian dari skema tambahan 100 GW pembangkit listrik baru hingga 15 tahun mendatang.

Dalam Kebijakan Energi Nasional, PLTN pertama ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2032 dengan kapasitas 250 MW. Melihat skalanya, kapasitas tersebut masuk dalam kategori Small Modular Reactor (Reaktor Modular Kapasitas Kecil).

Berdasarkan pengalaman selama ini di negara lain, PLTN berskala besar [kapasitas 1 GW ke atas] dibangun selama kurun waktu 7-10 tahun. Sedangkan, untuk PLTN pertama, Indonesia akan menggunakan PLTN dengan skala Small Modular Reactor [kapasitas di bawah 300 MW] yang diperkirakan waktu pembangunannya sekitar 5 tahun.

Dari berbagai pertimbangan ada beberapa alasan utama Indonesia perlu membangun PLTN, salah satunya adalah diversifikasi, yaitu perluasan pemanfaatan sumber energi sebanyak dan seluas mungkin.

Transisi energi atau dekarbonisasi juga bisa melalui perluasan pemanfaatan jaringan gas. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina terus mendorong pemanfaatan jaringan gas bumi rumah tangga (jargas) di kawasan perumahan sebagai bagian dari upaya menjadikan energi bersih, aman, dan efisien.

Langkah ini sejalan dengan komitmen PGN dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dalam mendorong pemanfaatan gas bumi di sektor perumahan dan real estate, PGN membuka peluang kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah dan pengembang perumahan (developer). Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat integrasi infrastruktur gas bumi sejak tahap perencanaan kawasan hunian.

Pembangunan jargas secara masif merupakan salah satu kontribusi dukungan PGN dalam menahan laju pertumbuhan impor energi pemerintah sehingga dapat memperbaiki Current Account Defisit Migas.

Jargas adalah bentuk konkret dalam menghadirkan energi lebih bersih, aman, dan terjangkau untuk masyarakat. Komitmen ini sejalan dengan misi ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber gas domestik.


*) Penulis adalah Dosen UCIC, Cirebon.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.