pelajaran yang bisa diambil dari dampak krisis Timur Tengah saat ini adalah secara bertahap mengakhiri kebergantungan yang terlalu besar pada pangan impor.
Jakarta (ANTARA) - Konflik berlarut Iran versus koalisi AS–Israel berdampak serius pada ketegangan regional, dalam hal ini kawasan Timur Tengah, kawasan yang dikenal sebagai produsen minyak skala besar.
Ketegangan geopolitik seperti itu bukan lagi sekadar peristiwa unjuk kekuatan militer, namun juga berdampak pada disrupsi pasokan energi fosil ke sejumlah negara importir, termasuk Indonesia.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah bersifat fundamental terhadap pasokan dan permintaan minyak dunia. Elastisitasnya terhadap kenaikan harga minyak dunia berpotensi lebih besar dibanding konflik Rusia-Ukraina.
Disebut berdampak fundamental karena posisi Iran sebagai anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang bisa memengaruhi OPEC dalam bentuk kuota produksi minyak mentah dan kebijakan harga.
Harga minyak dunia melonjak tajam melampaui 100 dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh kisaran 116—119 dolar AS per barel untuk jenis Brent, setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pasar energi global segera bereaksi, terutama ketika Iran menutup Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Bagi pasar energi global, gangguan pada Selat Hormuz bukan sekadar peristiwa regional. Selat ini merupakan urat nadi perdagangan minyak global, sehingga setiap ancaman terhadapnya segera memengaruhi pasar.
Bahkan tanpa gangguan pasokan nyata, ekspektasi terhadap potensi gangguan distribusi sudah cukup untuk memicu volatilitas harga minyak.
Antisipasi Indonesia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.