Jakarta (ANTARA) - Indonesia pada Rabu (8/4) mendesak PBB menyelidiki secara menyeluruh serangkaian serangan terhadap personel TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian di Lebanon (UNIFIL).
Plt Direktur Perdamaian dan Keamanan Internasional Kemlu RI Veronica Rompis mengatakan pemerintah telah menerima hasil penyelidikan awal terkait dua insiden pada 29 dan 30 Maret 2026.
"Pemerintah Indonesia telah mencatat hasil investigasi tersebut dan meminta PBB dapat menuntaskan investigasi secara menyeluruh," kata Veronica dalam taklimat media di Jakarta.
Ia menambahkan Indonesia juga mendesak semua pihak untuk mengadili pelaku serta memastikan akuntabilitas atas serangan terhadap personel penjaga perdamaian.
Veronica menegaskan hasil yang diterima masih bersifat awal dan Indonesia menunggu hasil penyelidikan penuh.
Sementara itu, Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric mengatakan seorang personel Indonesia gugur pada 29 Maret akibat proyektil tank Merkava milik militer Israel, sedangkan dua lainnya gugur pada 30 Maret akibat ledakan alat peledak rakitan (IED).
Baca juga: TNI jamin keselamatan tugas di UNIFIL saat jenguk personel di Lebanon
Menurut Dujarric, berdasarkan pemeriksaan di lokasi kejadian, perangkat tersebut kemungkinan dipasang oleh kelompok Hizbullah.
Lebih lanjut, Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan Indonesia baru menerima laporan untuk dua insiden awal.
Ia menambahkan penyelidikan insiden terbaru pada 3 April masih berlangsung.
"Kami terus meminta agar insiden ketiga pada 3 April dilanjutkan proses penyelidikannya," kata Yvonne.
Ia menegaskan Indonesia mendesak penyelidikan yang menyeluruh dan transparan.
Indonesia juga terus mengambil langkah pengamanan untuk memastikan keselamatan personel yang masih bertugas di UNIFIL.
Hingga kini, tiga personel TNI gugur dan delapan lainnya terluka dalam serangan saat menjalankan tugas di Lebanon.
Baca juga: Pakar: RI harus terlibat selidiki serangan atas personel TNI di UNIFIL
Baca juga: Personel TNI korban serangan terbaru di Lebanon dalam kondisi stabil
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.