pembatasan akses digital akan menjadi ruang kosong jika tidak diisi dengan substansi karakter

Tujuh kebiasaan tersebut adalah bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar membaca, makan sehat dan bergizi, menjaga kebersihan, serta istirahat tepat waktu.

Lalu bagaimana tujuh kebiasaan ini menjadi jawaban atas tantangan digital saat ini?

Pertama bangun pagi. Kebiasaan bangun pagi adalah simbol kedisiplinan dan kesiapan menghadapi dunia nyata. Dengan pembatasan gawai di malam hari, anak memiliki kualitas tidur yang baik untuk menjemput keberkahan di pagi hari, bukan bangun dengan mata lelah akibat scrolling tanpa henti.

Kedua beribadah. Gawai seringkali menjadi "tuhan baru" yang menyita perhatian. Pembatasan akses digital mengembalikan ruang sunyi anak untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, memperkokoh spiritualitas sebagai filter moral di dunia maya.

Tiga, berolahraga. Anak hebat adalah anak yang bergerak secara fisik. Di era di mana anak-anak cenderung pasif (sedentary lifestyle) karena gawai, kebiasaan berolahraga mengembalikan fitrah tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.

Empat, gemar membaca. Literasi adalah musuh utama hoax. Saat gawai diletakkan, buku harus diambil. Kebiasaan membaca melatih kedalaman berpikir (deep thinking) yang sering kali hilang akibat konsumsi konten digital berdurasi pendek yang dangkal.

Lima, makan sehat dan bergizi. Ada kaitan erat antara pola makan dan kontrol emosi. Menanamkan kesadaran nutrisi membantu anak memiliki performa otak yang optimal, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam kecemasan digital (digital anxiety).

Enam, menjaga kebersihan. Kebiasaan ini melatih kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Anak yang terbiasa bersih secara fisik akan memiliki "higienitas digital"; mereka akan risih dengan sampah-sampah visual dan informasi negatif di internet.

Tujuh, beristirahat tepat waktu. Inilah poin kunci regulasi Menkomdigi. Istirahat yang cukup tanpa gangguan notifikasi adalah hak asasi anak untuk pertumbuhan sel otak yang sempurna. Anak hebat tahu kapan harus log out dari dunia maya untuk masuk ke dunia istirahat yang berkualitas.

Solusi: Sinergi rumah dan kebijakan

Membangun 7 KAIH di tengah gempuran digital memerlukan langkah taktis dan sistematis. Tidak cukup hanya sekolah yang membimbing; rumah juga harus berperan aktif.

Keluarga perlu membangun chemistry dengan pihak sekolah agar kebijakan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut di rumah dan masyarakat. Beberapa langkah penting antara lain, menekankan bahwa literasi bukan sekadar larangan. Orang tua atau guru perlu menjelaskan bahwa pembatasan gawai adalah cara memberikan ruang bagi kehebatan mereka untuk tumbuh.

Kemudian perlunya keteladanan orang tua. Program 7 KAIH akan gagal jika orang tua masih "beribadah" pada gawai di depan anak.

Berikutnya adalah ekosistem yang mendukung. Sekolah harus menjadi laboratorium nyata bagi 7 KAIH, di mana interaksi sosial lebih menarik daripada interaksi layar.

Generasi Emas 2045 tidak boleh lahir dari rahim algoritma yang asing bagi nilai-nilai luhur bangsa. Mereka harus lahir dari pembiasaan yang baik, disiplin yang konsisten, dan perlindungan negara yang hadir melalui regulasi digital yang tepat.

Harapan besar itu kini berada di depan mata. Melalui sinkronisasi regulasi Menkomdigi dan gerakan 7 KAIH, Indonesia sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang cerdas secara digital namun tetap membumi secara karakter.

*) Ferry Yudi Antonis Saputro SHI MPdI CSTMI, Guru di SMP Negeri 16 Surabaya

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.