Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan meminta kepada seluruh mahasiswa untuk memiliki pola pikir global agar lulusan Indonesia mampu bersaing di pasar kerja internasional.

Dalam kegiatan Penguatan Career Development Center (CDC) di Jakarta, Rabu, Fauzan menyoroti fakta bahwa saat ini pekerjaan berbasis teknologi tinggi di berbagai belahan dunia, bahkan di Indonesia sendiri, kerap didominasi oleh pekerja dari negara lain seperti India.

Menurut Fauzan, hal tersebut terjadi karena pekerja dari negara kompetitor umumnya memiliki jiwa ekspansif dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk berkarier menembus batas negara. Di sisi lain, masyarakat Indonesia dinilai masih memiliki hambatan budaya yang memandang bahwa kepergian anggota keluarga dari daerah asalnya akan mengganggu stabilitas ikatan kekeluargaan.

"Kita jangan hanya sekedar menjadi penonton di era globalisasi, tetapi kita harus menjadi pelaku," katanya menegaskan.

Oleh karena itu, Fauzan mendorong kepada perguruan tinggi agar mengambil peran lebih luas, tidak sekadar meluluskan mahasiswa, tetapi juga memfasilitasi pengembangan karier mereka ke tingkat internasional.

Baca juga: KP2MI dorong kampus ciptakan mahasiswa calon pekerja migran terampil

Menurut dia, dengan mewujudkan kampus sebagai pusat layanan ketenagakerjaan luar negeri, maka budaya baru yang memandang bahwa bekerja di kancah global adalah sebuah prestasi yang terhormat diharapkan bisa tumbuh di Indonesia.

"Ini tidak mudah, karena memang dibutuhkan adanya satu cara berpikir atau mindset yang global," ujar Fauzan menambahkan.

Sebagai contoh keberhasilan, ia memaparkan program keperawatan Indonesia-Jepang yang dirintisnya saat menjabat sebagai rektor di Universitas Muhammadiyah Malang, yang sukses membekali mahasiswa dengan bahasa asing sejak semester awal hingga memberangkatkan ratusan lulusannya.

Saat ini, pemerintah tengah mengupayakan program kuliah dengan penempatan kerja ke luar negeri yang bisa menjadi solusi inovatif dan strategis bagi para mahasiswa yang terdampak bencana alam di berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Para mahasiswa terdampak diberikan fasilitas pelatihan bahasa secara intensif, sistem perkuliahan yang dilakukan secara daring, dan selanjutnya difasilitasi untuk berangkat bekerja ke Jepang.

"Yang pertama, dia tidak akan berhenti kuliah dan yang kedua, dia bisa menjadi tulang punggung keluarga karena dia bekerja," ucap Fauzan.

Baca juga: Kemdiktisaintek perkuat kolaborasi teknologi dengan Republik Siprus

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.