Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pasar global

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyatakan perseroan memiliki potensi ekspor sebesar 1,5-2 juta ton untuk membantu menjaga kestabilan pasokan global di tengah disrupsi distribusi akibat konflik di Timur Tengah.

Meskipun demikian, ia memastikan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas perusahaan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

“Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pasar global,” ujar Rahmad Pribadi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.

Ia menuturkan, ketahanan pasokan tersebut didukung oleh kapasitas produksi perseroan yang mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 juta ton.

Selain itu, perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism, atau mark-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran sebagian subsidi di muka, memungkinkan perusahaan untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus mempercepat program revitalisasi industri.

“Dalam lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan efisiensi produksi,” kata Rahmad.

Dalam dua tahun terakhir, Pupuk Indonesia berhasil menyalurkan pupuk bersubsidi dengan tepat waktu mulai 1 Januari setiap tahunnya. Capaian tersebut disertai penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen pada 2025.

Hal tersebut turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk subsidi sebesar 31 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Komisaris Utama Pupuk Indonesia Sudaryono menyatakan, transformasi dan revitalisasi yang dijalankan perusahaan telah memperkuat fondasi industri pupuk nasional.

Ia menilai, penguatan kinerja tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapi juga membuka ruang bagi Indonesia untuk berperan dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk di tingkat global.

“Porsi pupuk dalam negeri pasti akan dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia, dan ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan,” ucap Sudaryono.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan terdapat tiga negara yang mengajukan permintaan pasokan pupuk urea dari Indonesia di tengah penutupan Selat Hormuz.

Namun, ia belum mengungkapkan negara-negara tersebut karena proses negosiasi masih berlangsung.

"Ya nanti, kan ini masih nego, supaya harga kita agak lebih bagus," ujar Andi Amran Sulaiman di sela meninjau Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4).

Baca juga: Mentan pastikan harga pupuk subsidi tak naik meski Hormuz ditutup

Baca juga: Pupuk Indonesia dorong pembangunan pabrik metanol untuk mandatori B50

Baca juga: Dirut Pupuk Indonesia: Stok pupuk tak terganggu konflik Selat Hormuz

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.