Intervensi spesifik merupakan tindakan langsung terkait pemenuhan asupan gizi dan kesehatan

Samarinda (ANTARA) - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Kalimantan Timur memperkuat manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui dan balita (3B) untuk mencegah munculnya stunting baru.

Selain itu, pemenuhan gizi yang seimbang dan teratur juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi anak yang terlanjur stunting, dengan syarat anak tersebut berusia di bawah lima tahun, lebih efektif di bawah dua tahun.

"Dalam penanganan stunting, setidaknya ada dua intervensi yang bisa dilakukan, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif," ujar Kepala DPPKB Kota Samarinda Deasy Evriyani di Samarinda, Kamis.

Intervensi spesifik, katanya, merupakan tindakan langsung terkait pemenuhan asupan gizi dan kesehatan, seperti pemberian makanan bergizi dan suplementasi vitamin.

Baca juga: BGN: Penggunaan keuangan negara untuk MBG berlapis dan transparan

Sedangkan intervensi sensitif merupakan tindakan tidak langsung yang bertujuan untuk mendukung pencegahan stunting, seperti perbaikan sanitasi dan edukasi ke masyarakat tentang pencegahan atau penanganannya.

Ia menyebut bahwa saat ini di Samarinda terdapat 56 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari jumlah ini, masih ada 4 unit dalam pengajuan persiapan, sehingga total yang beroperasi ada 52 unit, sedangkan yang melayani MBG 3B ada 36 unit SPPG.

Sementara itu, jumlah penerima manfaat MBG 3B di Samarinda total 3.052 penerima yang terdiri dari ibu hamil 328 orang, ibu menyusui 501 orang, dan balita sebanyak 2.223 penerima.

Dalam distribusi MBG 3B sampai ke tangan penerima, pihaknya dibantu oleh ratusan tim pendamping keluarga (TPK) dan puluhan penyuluh keluarga berencana (PKB) maupun petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) yang tersebar di semua kecamatan.

Baca juga: Hoaks! MBG diganti jadi BPJS Kesehatan gratis

"Pemberdayaan kader TPK dan PKB maupun PLKB merupakan motor penggerak utama dalam verifikasi data dan pendampingan di lapangan dalam pendistribusian MBG 3B," kata Deasy yang juga dokter gigi ini.

Di tahap pendistribusian, lanjut ia, kader atau pendamping menerima MBG dari SPPG pada titik pengantaran yang disepakati bersama, sementara dalam penempatan hingga pemindahan ompreng harus memperhatikan keamanan pangan dan lingkungan sekitar.

Proses selanjutnya adalah membagikan dan makan bersama di lokasi, serta memberikan edukasi gizi dan keamanan pangan, evaluasi perkembangan berat badan anak sesuai hasil pengukuran.

Tugas lain kader juga mengantarkan makanan ke rumah penerima yang tidak datang ke Lokasi. Saat di rumah sasaran, kader melakukan pengawasan konsumsi serta mengedukasi tentang gizi dan upaya pencegahan stunting sesuai permasalahan di keluarga.

"Di beberapa wilayah, sepakat bahwa distribusi dua kali seminggu tetap dilakukan di lokasi yang ditentukan seperti posyandu atau rumah kader. Penerima datang sesuai jadwal untuk makan bersama di hari tersebut dan membawa pulang makanan untuk dua hari ke depan," ujarnya.

Baca juga: Politik kemarin, Prabowo gelar taklimat hingga pengadaan motor SPPG

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.