saat ini harus difokuskan untuk menegakkan dan menjadikan perdamaian yang langgeng
Moskow (ANTARA) - Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Kota Jeddah membahas situasi terkait Iran dan Selat Hormuz.
"PM Starmer memulai pembicaraan dengan menyambut gencatan senjata dan menjelaskan bagaimana upaya yang saat ini harus difokuskan untuk menegakkan dan menjadikan perdamaian yang langgeng," menurut pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Inggris, Rabu (8/4).
Starmer menegaskan bahwa saat ini menjadi momen sangat penting untuk melanjutkan upaya dalam membuka kembali Selat Hormuz.
"Dia juga membahas upaya berkelanjutan Inggris untuk mengumpulkan para mitra guna menyepakati dan merencanakan langkah-langkah praktis yang diperlukan untuk memberikan jaminan bagi pelayaran untuk melintasi Selat tersebut," imbuh pernyataan itu.
Starmer menyampaikan ucapan terima kasih kepada Arab Saudi atas upaya mereka melindungi warga negara Inggris di negara tersebut. Kerja sama lebih lanjut antara kedua negara di bidang pertahanan dan keamanan juga dibahas selama perundingan tersebut.
Baca juga: Inggris akan jadi tuan rumah KTT internasional tentang Selat Hormuz
Pada hari yang sama, surat kabar Iran Tehran Times melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan via telepon dengan Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud guna membahas perkembangan terkini di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Selasa (7/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa dia telah menyetujui gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan dan memastikan bahwa Iran juga telah setuju untuk membuka Selat Hormuz.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan bahwa Teheran akan memulai perundingan dengan Amerika pada Jumat (10/4) di Islamabad, Pakistan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Inggris akan undang 35 menlu bahas pembukaan Selat Hormuz
Baca juga: Araghchi kecam Inggris izinkan AS gunakan pangkalan untuk serang Iran
Penerjemah: Katriana
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.