Jakarta (ANTARA) - Pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan (Jaksel) menaikkan harga produknya seiring lonjakan harga kedelai impor yang dipicu dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram (kg), naik jadi Rp70.000 per kg," kata Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela Joko Asori (57) saat ditemui di rumah produksi di Jalan H Aom, Kramat Pela, Jakarta Selatan, Kamis.

Dia mengatakan kenaikan harga kedelai itu berdampak terhadap penjualan satu bungkus keripik tempe dengan berat 250 gram (gr) menjadi Rp19 ribu.

Menurut Joko, lonjakan harga kedelai itu mulai dirasakan pada Februari 2026, yaitu Rp930.000 per kuintal.

Kemudian pada April 2026, harga kedelai melonjak hingga mencapai Rp1.100.000, bahkan lebih. Hal ini pun sangat dirasakan bagi pengrajin tempe murni maupun pengrajin tahu.

"Apa ada dampaknya dengan antara Iran dengan Amerika, saya sendiri nggak tahu. Yang jelas, saat ini pengrajin tempe dan tahu itu sangat-sangat memerlukan modal banyak karena dari per kuintal itu, naiknya kurang lebih hampir Rp200.000 atau Rp170.000 per kuintal. Itu baru bahan bakunya, ya," ujar Joko.

Produksi keripik tempe di Gang Tempe Jalan H Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

Baca juga: Mentan segera panggil importir kedelai jaga stabilitas harga

Tak hanya kedelai, kata Joko, kenaikan juga dialami pada harga plastik yang semula Rp32.000-Rp33.000 per kg, menjadi Rp50.000 bahkan lebih per kg.

Akibat kenaikan harga tersebut, dia pun menyiasati dengan mengurangi berat pada produknya.

"Kalau masalah pengrajin tempe, harga naik, nggak mungkin dinaikin harganya, contoh yang semula sekilonya itu misalkan Rp12.500, paling dikurangi dari sekilo menjadi misalkan 970 gram, dikurangi 30 gram," ucap Joko.

Lebih lanjut, dia berharap para pelanggan masih loyal dan memahami kenaikan harga tersebut. Dia juga meminta pemerintah agar dapat lebih membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal.

"Kami sebagai pengrajin UMKM, pengrajin tempe, mohon kiranya pemerintah bisa memperhatikan, agar harga kembali normal," ungkap Joko.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski terjadi perang di Timur Tengah, karena Indonesia tidak bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Masyarakat diimbau agar tidak khawatir mengenai dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri dipastikan aman dan terkendali, sehingga masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan.

Baca juga: Mentan minta importir tak naikkan harga kedelai

Baca juga: Mentan: Pemerintah Pusat siap serap hasil panen kedelai

Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.