Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyusun dokumen strategis berbasis analisis National Transfer Accounts (NTA) yang dirancang untuk memahami dinamika kependudukan sekaligus mendukung perencanaan pembangunan yang lebih adil lintas generasi.
“NTA merupakan metode internasional untuk mengukur aliran sumber daya ekonomi antar kelompok usia, sehingga memungkinkan pemerintah merancang kebijakan berbasis siklus hidup dan keadilan antar generasi. Melalui pendekatan tersebut, analisis NTA diharapkan menjadi kompas baru bagi pemerintah dalam memetakan aliran sumber daya ekonomi lintas usia,” kata Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Maliki dalam agenda peluncuran Buku Investasi Antargenerasi: Arah Baru Kebijakan Indonesia di Akhir Transisi Demografi.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, ia mengatakan pemerintah mencatat Indonesia saat ini memasuki fase penurunan laju pertumbuhan penduduk dengan proporsi lansia yang terus meningkat.
Alih-alih memandang lansia sebagai beban, lanjutnya, pemerintah mulai mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi yang berasal dari umur panjang dan masa kerja lebih lama dari populasi lansia yang sehat dan aktif (silver dividend ) melalui penguatan seluruh aktivitas ekonomi yang dirancang khusus memenuhi kebutuhan penduduk lanjut usia (silver economy), termasuk pengembangan layanan kesehatan, hunian ramah lansia, serta teknologi pendukung.
Di sisi lain, isu care economy (ekonomi perawatan) disebut juga mendapat perhatian serius, mengingat beban perawatan anak dan lansia selama ini belum terbagi secara proporsional dan cenderung ditanggung oleh perempuan, yang berujung pada time poverty (kemiskinan waktu).
Maliki menyampaikan bahwa buku itu hadir sebagai alat analisis yang lebih mendalam.
“Jika selama ini kita berbicara tentang bonus demografi hanya berdasarkan jumlah anak, usia produktif, dan lansia melalui batasan usia yang sederhana (cut-off), maka melalui NTA kita dapat mengetahui produktivitas riil dari kelompok usia tersebut,” ujar dia.
Lebih lanjut, dokumen tersebut digunakan sebagai landasan strategis dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dengan menekankan enam arah transformasi. Pertama ialah investasi sumber daya manusia sejak dini melalui penguatan gizi, kesehatan, dan pendidikan anak.
Berikutnya yaitu reformasi pasar kerja melalui transformasi pendidikan vokasi dan sistem pengupahan berbasis kompetensi. Ketiga, peningkatan produktivitas perempuan melalui penyediaan fasilitas pengasuhan anak dan sistem kerja fleksibel. Kemudian juga penguatan jaring pengaman sosial melalui reformasi sistem pensiun yang berkelanjutan bagi lansia.
Kelima adalah pengembangan care economy sebagai sumber lapangan kerja formal baru, serta pemerataan wilayah melalui sinkronisasi pembangunan inklusif antara Indonesia Barat dan Timur.
Melalui pendekatan berbasis NTA, pemerintah diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, inklusif, dan berkeadilan antar generasi guna mendukung pembangunan berkelanjutan ke depan.
“Paling penting adalah support systemnya. NTA ini kita harapkan bisa menjadi tools bagi kita untuk menyusun kebijakan-kebijakan itu, terutama kebijakan aging population kita,” ujar dia.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.