Jawaban yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan

Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) Ginandjar Kartasasmita mengungkapkan langkah-langkah kunci yang dilakukan pemerintah dalam memperkuat nilai tukar rupiah pada masa krisis ekonomi dan era awal reformasi.

Dalam acara peluncuran buku berjudul Ginandjar Kartasasmita Pengabdian dari Masa ke Masa: Perjalanan, Pergulatan Hidup dan Pemikiran di Jakarta, Kamis, ia menegaskan bahwa faktor utama pemulihan nilai tukar rupiah saat itu adalah pemulihan kepercayaan baik dari sisi pasar maupun masyarakat.

“Jawaban yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan," katanya.

Ia menjelaskan krisis ekonomi 1997–1998 tidak semata-mata disebabkan oleh gejolak moneter, melainkan berakar pada hilangnya kepercayaan pasar terhadap pemerintah.

Dalam pandangannya, kondisi tersebut memicu ketidakstabilan ekonomi yang berujung pada lonjakan inflasi dan pelemahan tajam nilai tukar mata uang Indonesia hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dirinya yang menjabat sebagai Menko Ekuin pada 1998-1999 menggambarkan situasi kala itu sebagai periode penuh ketidakpastian.

Baca juga: Analis nilai ekonomi domestik relatif stabil di tengah gejolak global

Baca juga: Analis: Ruang penguatan rupiah masih sempit seiring sensitivitas pasar

Oleh karena itu, untuk menahan pelemahan lebih dalam, pemerintah saat itu katanya menggandeng lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia guna memperoleh dukungan devisa.

“Kita tentu dibantu oleh lembaga internasional, oleh IMF. Karena apa? Karena pada waktu itu devisa kita sudah habis, terus keluar," ucapnya.

"Jadi, untuk sementara, kita dapat dukungan devisa dari IMF, dari World Bank dan memang dipersyaratkan dengan berbagai syaratnya. Karena itu kita butuhkan untuk menjaga agar supaya rupiahnya tidak lebih banyak menurun dan secara perlahan meningkat,” katanya lagi.

Selain dukungan eksternal, ia menekankan pentingnya koordinasi solid antarotoritas ekonomi domestik, terutama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, dalam memulihkan kepercayaan terhadap rupiah.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, menilai Ginandjar sebagai sosok penting yang telah meletakkan fondasi pembangunan Indonesia modern.

"Pak Ginandjar adalah orang-orang yang meletakkan dasar-dasar bagi kementerian dan lembaga untuk melanjutkan kepemimpinan selanjutnya," katanya.

"Satu lagi yang saya juga ada dalam catatan tulisan saya Pak Ginandjar meletakkan dasar-dasar pengembangan wirausaha dan dasar-dasar hilirisasi," lanjutnya lagi.

Baca juga: Analis: Kurs rupiah dapat membaik jika ada kepastian arah kebijakan

Baca juga: Analis: Rupiah dapat menguat terbatas seiring dampak potensi tarif AS

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.